Monday, July 15, 2013

Menikmati Tubuh Grea

Menikmati Tubuh Grea

Menikmati Tubuh Grea

Menikmati Tubuh Gea
Tiba-tiba Harlan memeluk tubuh Ghea erat-erat. Ghea mengamuk hebat. Kedua tangannya memukuli dada Harlan. Harlan malah tertawa-tawa senang.

"Jangan kurang ajar, Mas! Jangan kurang ajar!" teriak Ghea panik ketika bibir Harlan berusaha hendak meraih bibirnya.

Sekuat mungkin Ghea berusaha memberontak. Tapi saying usahanya sia-sia. Harlan sendiri malah semakin liar menjamah tubuhnya. Sambil menciumi wajahnya sebelah tangang pemuda itu meremas-remas payudara Ghea dengan penuh nafsu.

"Lepaskan aku, Mas! Lepaskan aku! Kalau nggak aku akan berteriak!"

"Berteriaklah! Disini nggak bakalan ada yang menolongmu!" ujar Harlan sambil menyeringai mengerikan.

Kali ini ketakutan Ghea benr-benar sudah diambang batas. Rasanya dia sulit untuk menghindar dari Harlan yang tengah kalap mencumbunya. Namun untuk pasrah begitu saja Ghea tidak mau. Dengan sekuat tenaga dia berusaha memberontak hebat. Tapi setiap kali usahanya selalu kandas. Tenaganya kalah kuat dibandingkan Harlan yang bertubuh tinggi besar. Bahkan dengan kasar sekali tiba-tiba Harlan menyeret tangan Ghea ke dalam kamar tidurnya.

"Mas, jangan, Mas! Jangan"!" pinta Ghea memelas.

Sedikitpun Harlan tidak mempedulikan permohonan gadis itu. Dia menindih tubuh ramping itu rapat-rapat di atas ranjangnya. Sambil menindih tangan Harlan mulai meraih gaun yang dikenakan Ghea. Tapi Ghea malah memberontak hebat. Mungkin karena saking kesalnya Harlan lalu merobek pakaian yang dikenakan Ghea.

Bret! Bret!

Ghea memekik ketakutan. Seketika bagian atas tubuhnya terkuak lebar menampakkan kedua belah payudaranya yang putih mulus dan membusung indah. Tak puas melihat keadaan itu, tangan Harlan kembali merenggut bra penutup kedua belah payudara gadis itu. Tentu saja hal itu membuat kedua buah dada putih mulus milik Ghea yang berukuran cukup besar terkuak menantang dengan kedua ujungnya yang coklat kemerahan tanpa penghalang apapun.

Melihat pemandangan yang begitu menggairahkan, Harlan seperti kesurupan. Serta merta dia segera menciumi dan menjilati kedua buah dada gadis itu yang putih mulus, membusung kencang dan padat berisi. Ghea kewalahan bukan main menghadapi ciuman-ciuman Harlan yang kasar. Sekuat mungkin dia menjambak rambut pemuda itu yang sedang melumat dan menghisap-hisap putting payudaranya dengan buas.

"Brengsek! Kalau kamu nggak menuruti kemauanku, kubunuh kamu.!"

Tiba-tiba Harlan mengeluarkan sebilah pisau belati yang disembunyikan di kaki. Ghea ketakutan setengah mati melihat mata pisau di tangan Harlan yang berkilauan.

"Jangan, Mas! Jangan"!" pinta Ghea tak dapat lagi menyembunyikan air matanya.
Tapi Harlan yang tengah kesurupan obat bius mana mau menuruti permintaan Ghea. Dia malah kemudian mulai menanggalkan rok yang dikenakan gadis itu dan juga celana dalamnya hingga Ghea menjadi polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi kulit tubuhnya yang putih bersih. Mata Harlan dengan nanar menatap kemaluan Ghea yang ditumbuhi bulu-bulu hitam yang cukup lebat, sungguh indah menantang. Harlan yakin kalau kemaluan Ghea masih suci belum pernah dijamah siapapun.

Puas melepaskan pakaian yang dikenakan Ghea, Harlan pun mulai menanggalkan pakaiannya sendiri hingga bugil. Ghea begidik ngeri melihat penis Harlan yang besar sudah berdiri tegang. Lalu Harlan kembali menindih tubuh putih mulus dan ramping milik Ghea yang sudah telanjang itu dan kembali menciumi kedua payudara Ghea yang berbau harum itu. Harlan terus menciumi payudara gadis cantik itu, mulutnya kadang juga menghisap-hisap putting susu Ghea hingga putting susu gadis cantik itu mengeras. Sementara tangannya secara bergantian juga meremas-remas payudara Ghea yang padat dan kenyal itu.

Ghea mendesis-desis hebat. Ingin sebenarnya dia memberontak cumbuan-cumbuan kurang ajar itu. Namun sayang dia tidak berani melihat mata pisau di tangan Harlan yang terus mengancamnya. Akhirnya gadis cantik itu hanya pasrah melayani cumbuan-cumbuan Harlan.

Harlan sendiri malah semakin kurang ajar. Kedua tangannya lalu menyibak sepasang paha putih mulus milik Ghea hingga terbuka lebar. Ghea berusaha bertahan tapi dia tak berdaya. Tubuh Ghea tersentak saat tangan Harlan menjamah kemaluannya yang amat sensitive dan belum pernah dijamah siapapun.
"Kumohon, Mas! Jangan lakukan itu! Kasihani aku, Mas!" pinta Ghea dengan napas tak karuan.

Tapi lagi-lagi Harlan hanya menyeringai, lalu kepalanya menunduk dan dengan penuh nafsu menciumi dan menjilati belahan kewanitaan Ghea. Gadis cantik itu menjerit kaget, tubuhnya seketika mengejang dan menggeliat. Sementara mulut Harlan terus menciumi dan menjilati belahan kewanitaan Ghea yang masih sempit dan berwarna kemerahan itu, Harlan dapat mencium bau harum yang khas dari belahan kewanitaan Ghea. Beberapa saat kemudian belahan kewanitaan Ghea mulai basah oleh cairan yang keluar dari dalam lubang kewanitaannya bercampur dengan ludah Harlan.

Setelah puas Harlan mulai melampiaskan nafsunya. Pemuda itu merangkak naik keatas dan langsung menindih tubuh Ghea yang masih dalam posisi terkangkang lebar. Mendadak Ghea membelalak lebar. Kedua boal matanya itu dialihkan ke bawah bagian tubuhnya ketika Harlan tengah berusaha merenggut kesuciannya. Ghea dapat merasakan kejantanan Harlan yang keras dan kasar mendesak-desak pada belahan kewanitaannya berusaha menerobos masuk ke dalam lubang kewanitaannya. Berulang-ulang Harlan melakukannya, namun belum berhasil karena belahan kewanitaan Ghea memang masih perawan dan masih amat sempit sekali. Harlan berkali-kali menggeram kecewa keringatnya sudah membasahi tubuhnya dan juga tubuh putih mulus yang sedang ditindihnya. Sebaliknya Ghea ketakutan setengah mati.

Akhirnya Harlan berhasil merenggut kesucian Ghea dengan kasar sekali. Seketika Ghea menjerit keras. Tubuhnya yang ramping sampai terhenyak ke depan dan terkulai lemas. Tapi Harlan tak mempedulikannya. Ia terus menggeluti Ghea dengan hentakan-hentakan tubuhnya yang khas. Penisnya tampak keluar masuk pada lubang kewanitaan Ghea. Pada saat itu darah keperawanan Ghea mulai membasahi pangkal pahanya.

"Biadab kau, Mas...!" tangis Ghea memelas dibawah tindihan tubuh Harlan.
Seperti tidak terpengaruh oleh isak tangisan Ghea, Harlan terus menyetubuhi gadis cantik itu. Lambat laun gerakan tubuh Harlan semakin liar, penisnya semakin cepat keluar masuk mengoyak lubang vagina Ghea, keringatnya juga sudah membasahi sekujur tubuhnya dan juga tubuh putih mulus Ghea. Akhirnya Harlan melenguh tertahan dan mengejang ketika penisnya menyemburkan sperma di dalam lubang vagina Ghea dengan amat banyak hingga membanjiri lubang vagina gadis cantik itu.

Puas melampiaskan hajatnya, Harlan tertawa-tawa menang sambil membiarkan penisnya masih terbenam di dalam lubang vagina Ghea. Sebaliknya Ghea menangis sedih. Ghea lalu mendorong tubuh Harlan yang masih menindihnya hingga bergelimpang ke samping dan penisnya tercabut dari lubang vaginanya. Ghea dengan cepat mengenakan pakaiannya kembali, berkali-kali gadis cantik itu mendesis-desis penuh kemarahan. Harlan hanya memandangi Ghea yang mengenakan BH-nya menutupi payudaranya yang putih mulus, padat dan kencang yang masih basah oleh keringat bercampur ludahnya. Lalu Ghea memakai celana dalamnya, tampak kemaluannya yang berbulu cukup lebat masih basah oleh sperma bercampur darah keperawanannya.

"Bajingan kau, Mas! Bajingan!" tangis Ghea histeris.
Begitu selesai mengenakan pakaiannya kembali, Ghea pun segera berlari keluar.

Kumpulan Cerita Seks, Cerita Dewasa, Foto Bugil. Cerita Mesum, Pemerkosaan, Ngentot ABG, Pesta Seks, Malam Pertama. Daun Muda, Hilangnya Keparawan, Perselingkuhan, Sedarah, Setengah Baya, Memek SMP, Memek SMA, Ngentot Gratis, Vudeo Bokep, Video Pemerkosaan, Penganiayaan, Telanjang, Foto Bugil.

pecinta-facebook.blogspot.com adalah situs dewasa yang menyajikan cerita-cerita seks dewasa, dan foto seks yang dimana ini hanya untuk hiburan saja.

Si Gina Keenakkan saat Bermain Seks

PSK solo

Si Gina Keenakkan saat Bermain Seks

Ini cerita kejadian pada waktu aku sedang ada masalah dengan pacarku, namanya Gina, tinggi badannya 160 cm, berat 57 kg, kulit putih bersih, bra 36B. Namaku panggil saja Andi. Pacarku itu sangat seksi karena bokongnya menonjol ke belakang dan pinggangnya kecil jadi kata temanku dia sangat montok.


Masalahnya kami sedang bosan satu sama lain, karena hubungan kami sudah 2 tahun sementara untuk pikiran menikah masih dibahas tidak kunjung selesai karena ada faktor X diantara kami. Untuk menghilangkan kebosanan pada saat kami berhubungan badan dia sering membayangkan yang melakukan hal ini dengan batang kemaluan yang besar dan hot, batang kemaluanku sendiri panjangnya 15 cm dan diameter 2,5 cm, katanya kurang? dan karena saat itu aku sedang sibuk kerja di kantor maka kalau sedang berhubungan badan, biasanya bisa 30 menit di luar pemanasan, pemanasan biasanya 30 menit juga mulai dari atas sampai menjilat liang kemaluan, sekarang pemanasan 15 menit dan hubungan badan 5 menit. Wah, dia protes setiap selesai berhubungan badan, sudah pasti saya keluar duluan sementara dia naik saja belum. Sementara saya juga tidak terpikir untuk menyeleweng dan dia juga menjaga perasaan saya dengan tidak menyeleweng, tapi yang terjadi kami sering berantem kecil-kecilan dan dia kalau diajak berhubungan badan sering malas.



Ceritanya sendiri kami jalan-jalan malam itu kurang lebih jam 9.00 malam berkeliling di daerah Thamrin. Sambil jalan kami membicarakan masalah hubungan badan, dia protes karena kondisiku yang tidak berubah. Dia bicara begini, Andi, aku bosen nih kamu kalau hubungan sekarang cepet banget, kan Gina belum puas, katanya merengek.

Habis aku lagi capai sih.. kataku.
Ah, gitu terus alasannya.. katanya.
Yaa bukan gitu dong.. tapi lagi bener tidak fit, kataku.
Tapi aku kan jadi suntuk nih, kepalaku sering nyut-nyutan, aku jadi kepengen banget badanku digerayangin sama cowok lain! Aku pengen gituan yang hot yang lama 2 jam dan batang kemaluannya gede, kata Gina.
Enak kali ya.. sama bule, katanya menyambung.
Memang kamu berani Gin.. kataku sedikit cemburu tapi ada perasaan lain ingin menantang dia.
Yaa, iyalah.. tapi aku kan tidak enak sama kamu, katanya.
Memang kamu pengen batang kemaluan yang gede dan yang hot? tanyaku.
Yaa.. habis kamu kalau hubungan sepertinya sudah tidak full lagi tegangnya dan mana cepet lagi. Pusing aku, tahu! katanya.
Yaa.. sudah kalau gitu sini kamu tiduran biar tidak pusing.
Kemudian jok kursinya dia mundurkan dan dia rebahan di pangkuanku, tangan kiriku langsung membelai rambutnya.



Terus kupijat kepalanya dan ternyata dia keenakan, lalu merem pelan-pelan. Tanganku turun ke leher, pundak dan ke dadanya. Kuremas perlahan, dia diam saja, kancing bajunya satu persatu kubuka sambil mobil jalan terus berputar di sekitar Monas dan Sabang. Perlahan tanganku meremas buah dadanya ternyata sudah mengeras. Dadanya montok, bentuknya bulat penuh dengan puting berwarna merah jambu. Ketika kusuruh melepas branya, dia langsung membuka kancing branya dan melepas bra tersebut sehingga buah dadanya yang montok itu menantang keluar kedua-duanya karena bajunya sudah kupinggirkan ke samping. Dengan leluasa tangan dan jari-jariku bermain meremas dan memijat pelan putingnya yang telah mengeras.

Akkhh.. desah Gina keenakan.

Mhh.. enak Gin.. tanyaku.
Iyyaa.. desahnya keenakan.
Jari tanganku lalu turun ke bawah mengusap perut dan pusarnya, terus ke bawah membuka kancing celana jeans-nya dan menarik reitsletingnya. Srett.. terbuka sudah dan perlahan jari ini menyentuh bulu-bulu halus di atas bibir kemaluannya. Kemudian kuremas perlahan dan kuusap.
Aakhh.. Andii.. keenakan rupanya dia dan.., Aduuhh, aku pengen batang kemaluan yang gede Ndii.. Wah mulai deh dia ingin berhubungan badan.
Yang lamaa.. yang hot.. akhh.. desah dia keenakan.



Jariku naik turun dari dada ke sekitar liang kemaluannya, dengan perasaan cemburu aku bertanya kepadanya, Kamu mau sama yang gede kayak bule Gin..? tanyaku.

Mauu.. desahnya sambil badannya bergetar.
Wah, kepalang tanggung nih pikiranku jadi kotor.
Kamu pengen yang hot yaa? tanyaku lagi.
Akhh.. aahh iyaa.. katanya.
Ya sudah kamu cari aja.. kataku penasaran ingin membuktikan kepadanya.
Pikir-pikir dari pada dia main di belakang lebih baik terus terang kalau memang berani.



Ketika di jalan sekitar McDonald, kulihat ada bule sendirian di pinggir jalan sedang berdiri, badannya besar dan tinggi. Aku melihat dia sedang mencari bantuan. Ketika kulihat, dia juga melihat. Setelah sekali putar kulihat dia masih di tempat, sementara jariku sedang merayap di sekitar bibir kemaluan Gina, kemudian mobil kupinggirkan. Ehh, bule itu mendekati mobil kami, Gina tidak tahu kalau kaca jendela kubuka. Dia pikir aku ke pinggir karena capai keliling terus, jadi dia biarkan saja dadanya terbuka dengan putingnya yang mengeras dan bulu-bulu halus yang terlihat dari luar. Bule tersebut mendekat dari sisi pintu Gina dan melihat ke dalam sambil berbicara,

Maukah anda menolong saya.. ups.. maaf.. katanya sambil terbelalak matanya.
Dia kaget melihat posisi Gina terlihat buah dadanya yang putih mulus keluar dengan puting yang telah mengeras dan bulu halus kemaluan Gina terpampang tepat di wajahnya. Karena badannya menjorok ke dalam pada saat berbicara.



Gina tidak kalah kaget. Lhoo? dia segera bangkit dari tidurnya dan merapikan kemejanya.

Kok kamu tidak bilang kalau ada orang sih.. wajahnya merah karena malu.
Sudah tidak apa-apa.. kataku tersenyum, lalu aku bilang ke bulenya, Maaf, ini pacar saya. Apa yang bisa saya bantu.
Setelah tenang sedikit sambil melihat ke Gina dia bilang, Mobil saya rusak dan tidak ada bantuan, kata si bule.
Mobil saya rusak dan saya sudah minta tolong teman saya tapi teman saya sedang pergi jadi saya tunggu di sini, katanya lagi.
Ya sudah, anda masuk saja ke belakang, kataku.
Ooh ya, terima kasih.. katanya sambil melirik ke arah Gina.
Dia naik dan duduk di belakang. Sementara Gina masih kaget sedikit tapi melihat bule itu ganteng (katanya) dia perlahan protes, Aku kan malu.. katanya.
Katanya pengen bule, kataku berbisik.
Tapi kan tidak begini dong.. katanya merajuk.
Kulihat dia tidak marah berarti dia juga kemungkinan suka.



Aah ya, saya Andi, kataku bersalaman, Dan ini Gina..

Sambil tersenyum mereka berdua bersalaman dan terus mengobrol basa-basi dari mana dan seterusnya. Setelah basa-basi selesai lalu dia bilang, Kamu punya body bagus Gin..
Gina mencubit pahaku, Aku kan maluu..
Terus aku bilang, Katanya kamu pengen tahu Gin, gedenya seberapa, kataku.
Yaa, aku kan cuma.. kata dia tidak meneruskan karena si bule (namanya Chalued) menyeletuk.
Kalau kamu pengen tahu, kamu lihat saja, katanya sambil tersenyum.
Tidak apa-apa kok.. kata si bule.



Aku yang sudah penasaran sejak tadi oleh keinginan Gina terus menimpali, Ya sudah Gin.. kamu ke belakang saja Gin.. kataku.

Aakhh, tidak ahh. Gila kali.. kata Gina tersenyum.
Ya tidak, kan cuma lihat saja biar kamu tidak penasaran, kataku.
Eeh, si bule bilang mengenai hal tersebut tidak jadi masalah kalau di negaranya (Prancis) di sana mereka sudah bebas kalau suka ya bilang suka.



Kalau kamu penasaran ya lihat saja, katanya tersenyum.

Karena terus diajak bicara dan Gina antusias mendengarnya akhirnya dia mau juga ke belakang.
Lihat saja yaa.. kata Gina tersenyum malu.
Kemudian kujalankan mobil ke jalan Menteng, sementara Chal kulihat segera membuka kancing celananya dan reitsletingnya terus menarik ke bawah celananya. Gina yang duduk di sampingnya melihat keluar jendela sampai Chal mengeluarkan batang kemaluannya yang besar walaupun belum tegang sekali.
Hai.. lihat ini, katanya sambil tangan kirinya memegang batang kemaluannya sendiri dan tangan kanannya memegang tangan kiri Gina.
Gina melihat batang kemaluan bule itu dan terlihat wajahnya menegang terpaku melihat batang kemaluan yang besar berwarna putih dengan kepala batang kemaluan seperti topi baja. Sementara aku menyetir terus dan dapat melihat melalui spion atas kelakuan mereka berdua di belakang.



Kamu lihat ini dan pegang saja! kata Chal.

Wihh takut akhh.. desah Gina dengan suara serak.
Tidak apa-apa biar kamu tidak penasaran lagi, kata Chal.
Gina terpaku melihat batang kemaluan Chal di samping tangannya. Chal mengambil inisiatif, langsung dia mencium pipi Gina perlahan, karena Gina diam saja maka wajah Gina dipegangnya dan.. Gila dia mencium bibir Gina dengan perlahan dan perlahan kulihat Gina membalas ciuman itu dengan membuka bibirnya serta merta Chal melumat bibir itu dan memasukkan lidahnya.



Emmhh.. desah Gina perlahan.

Kamu suka Gin.. bisik Chal di kuping Gina.
Melihat reaksi positif dari Gina, tangan kiri Gina diarahkan untuk memegang batang kemaluan besar yang telah menyembul dari atas celananya. Ternyata Chal sudah melepaskan celananya berikut celana dalamnya sampai di paha. Walaupun belum keras tapi sudah berdiri tegak batang kemaluan itu berikut bijinya yang ditutupi rambut kemaluan. Gina mulai memegang batang kemaluan itu dan ternyata walaupun masih lemas jari telunjuk dan ibu jarinya tidak dapat bersentuhan (membuat bentuk huruf O) membuat Gina penasaran dan melihat secara jelas bentuk batang kemaluan bule tersebut dan mendesah, Aakkhh gedee bangeet.. desahnya dengan suara parau dan wajah memerah.



Wah, kudengar dia sudah birahi, panik juga aku. Kemudian Chal sambil mencium telinga Gina berbisik, Kamu kocokin dong.. desah si bule tidak tahan keenakan.

Wah sudah lupa mereka berdua, katanya hanya lihat saja, kok minta dipegangi dan dikocok lagi. Eeh, ternyata Gina menuruti permintaan Chal dan perlahan jari-jari tangannya meremas dan mulai mengurut ke atas dan ke bawah dan dalam relatif singkat batang kemaluan bule tersebut berdiri dengan kokohnya di tangan Gina. Panjangnya lebih dari batang kemaluanku atau lebih kurang 22 cm dan diameternya sekitar 4 sampai 5 cm.



Emmhh.. akhh.. desah mereka berdua di jok belakang.

Makin lama semakin hot saja mereka berdua, sementara tangan Gina terus mengocok kejantanan Chal. Chal pun dengan nafsunya mengulum bibir Gina dan jemarinya dengan cepat membuka kancing kemeja Gina, karena Gina belum mengancingkan semua kancingnya (sengaja barangkali) maka kemeja tersebut dengan cepat terbuka semua dan dengan sigap tangan dan jari Chal langsung meremas susu Gina yang ternyata telah mengeras dan menonjol.



Akhh enak Chal.. desah Gina menggelinjang. Baju itu disingkirkan ke samping dan begitu bibir Gina dilepas ciumannya maka mulut Chal langsung mendekat ke dada Gina sambil terus meremas perlahan. Puting Gina dihisap sambil dijilat, gundukan daging dada berganti-ganti sehingga, Akhh.. uuff.. erang Gina keenakan. Wajah Gina sudah menengadah ke atas dengan posisi pasrah, sementara tangan kirinya terus mengocok batang kemaluan Chal yang besar dan penuh digenggamannya dengan makin cepat, kadang-kadang diremas batang kemaluan itu dengan kuat tanda dia sudah tidak tahan karena rangsangan yang ada pada sekujur tubuhnya dan bergetar badannya.



Ooohh.. Anndii.. desahnya keenakan lupa kalau yang sedang bersamanya itu si Chal. Tangan kanan Gina menekan kepala Chal ke dadanya sementara tangan kirinya sudah tidak beraturan mengocok batang kemaluan besar dan menariknya ke atas seakan-akan ingin digesekkan atau dimasukkan ke dalam liang kemaluannya sendiri dan seakan-akan memaksa untuk segera dituntaskan semuanya.



Chal menyadari yang diminta Gina dan tangan kiri Chal segera membuka kancing celana Gina dan menarik ke bawah reitsleting celana Gina. Tahu atau pura-pura tidak tahu Gina membiarkan tangan itu membuka reitsleting dan dengan mengangkat sedikit pantat Gina tangan Chal itu berhasil meloloskan celana panjang berikut celana dalam Gina yang berwarna hitam tipis terbawa tertarik ke bawah. Celana itu tertarik hingga di tengah paha Gina di atas dengkul Gina sedikit. Tersembul sudah batang paha Gina yang putih mulus dan gundukan kemaluan Gina yang ditutupi oleh rambut kemaluannya yang halus berwarna hitam ikal.



Kamu mulus sekali Ginn.. bisik Chal sambil tangannya mengusap paha jenjang milik Gina.

Ahh kamuu.. Gina tersenyum keenakan dan mata memerah. Keadaan mereka berdua sudah sama-sama dengan celana yang telah merosot dan posisi celana mereka berdua telah berada di atas dengkul masing-masing. Gina hanya mendesah dan menggelinjangkan pinggulnya sambil merenggangkan paha atasnya ketika jari-jari Chal itu mulai merayap perlahan, mengelus dan menekan sekitar atas kemaluan Gina yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan menyebarkan aroma yang khas dari kemaluan Gina. Mereka benar-benar telah tidak memperhatikanku yang membawa mobil dengan perlahan sekali dan terus memperhatikan kelakuan mereka berdua yang sudah seperti orang kepanasan.



Mereka sama-sama mendesah dan mengerang perlahan.

Saya suka sekali wanita Indonesia.. desah Chal.
Wanginya sangat enak sekali, kata Chal sambil mendesah.
Emmhh.. desah Gina sambil mengerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Sementara batang kemaluanku sendiri sudah kukeluarkan sejak tadi dan perlahan kukocok sendiri, Sialan, makiku dalam hati, cemburu tapi enak juga aku melihatnya serasa menonton film BF beneran di depan mata lagi. Jari bule itu mulai menyentuh belahan kemaluan dan mengusap perlahan terus dari atas ke bawah. Belahan kemaluan Gina sudah terlihat basah dan menjadi licin di sekitar belahan tersebut dan semakin lama menyebarkan aroma yang membuat Chal dan aku menjadi makin terangsang. Tangan Gina sudah terlepas dari mengocok batang kemaluan itu dan kedua tangan itu terkulai lemas meremas kepala Chal dan kadang-kadang mengusap punggung Chal dengan sangat merangsang sekali. Chal sabar sekali sementara tangan kiri dan jarinya terus membelai belahan kemaluan Gina, tangan kanannya terlihat meremas buah dada Gina, sementara itu mulutnya menghisap puting Gina yang telah mengeras serta menjilati permukaan dari gundukan buah dada Gina atau mengulum bibir Gina dengan emosi yang teratur.



Kurang lebih 20 menit Chal telah merangsang sekujur tubuh Gina sementara baju Gina telah terlepas membuat dia leluasa menggerayangi sekujur tubuh putih mulus itu. Terlihat Gina tersenyum puas dan memasrahkan diri sepenuhnya untuk diraba dan diremas oleh jari Chal dan Chal pun menciumi seluruh tubuh Gina yang telah polos sampai ke punggung pun dia ciumi dengan penuh gairah. Suatu pemandangan yang eksotik dan luar biasa, kupandangi kekasihku digerayangi dan dilumat habis seluruh badannya dan wajahnya tapi aku tidak cemburu, malah terasa puas dan bernafsu sendiri melihat adegan tersebut.


Sungguh sensasi luar biasa. Gina sudah bugil setengah badan ke atas tanpa sehelai benang pun di tubuh atasnya terlihat tonjolan buah dadanya yang putih bulat penuh mengeras dengan puting merah jambu dan sementara itu celana panjang Gina telah merosot sampai ke bawah dengkulnya sehingga dengan makin leluasa jemari bule tersebut meremas gumpalan daging kemaluan Gina dan jari tengahnya terus menggesek belahan kemaluan tersebut. Chal terus membelai belahan kemaluan Gina tanpa dia berusaha memasukkan jari tengah tersebut ke dalam kemaluan Gina yang telah terpampang dengan pasrah. Sementara Gina telah dalam posisi setengah rebahan dengan kaki terbuka atau bisa disebut mengangkangkan kakinya.



Chal melihat Gina sudah pasrah dan seluruh badannya bergetar seperti menahan sesuatu segera merubah posisi badannya menghadap ke Gina. Dia berlutut di depan Gina yang telah mengangkangkan kakinya sehingga posisi badannya sekarang telah berada di antara kedua kaki Gina yang mengangkang lebar dan lubang kemaluannya yang telah terlihat jelas telah basah. Karena posisi yang sempit di belakang mobil maka Chal mendorong dan melipat kursi di sampingku ke depan.


Wah aku takut juga kalau sampai batang kemaluan Chal yang panjang dan besar itu telah siap-siap mengarahkan ke belahan kemaluan Gina yang telah menantikan dengan mata terpejam dan mulut yang terbuka dengan desahan, Jangan Chal.. desah Gina.

Takuut.. erang Gina.
Tidak apa-apa.. sakitnya hanya sebentar, desah Chal sambil mengambil posisi sementara tangannya terus merayap di sekujur tubuh Gina.
Tapi aku takut tidak muaat.. nanti kemaluanku robeek.. kata Gina sambil ketakutan melihat batang kemaluan Chal yang benar-benar luar biasa besarnya telah berada di depan permukaan kemaluannya.



Kamu harus mencobanya Gin.. pelan-pelan saja.. desah Chal sambil mulai mengarahkan batang kemaluannya ke lubang kemaluan Gina yang telah terbuka sedikit akibat jari-jari Chal yang terus membelai belahan kemaluan Gina. Rupanya Gina benar-benar takut dan membuatku juga ketakutan. Wah, bahaya nih kalau sampai ada apa-apa aku juga yang ketimpa pulungnya, kami berdua juga nanti menanggung resikonya. Mobil segera kupinggirkan di sisi jalan yang agak gelap dan kuhentikan secara perlahan. Setelah kurasa aman di sekitar jalan aku segera membalikkan tubuhku ke belakang untuk melihat lebih jelas lagi.

Kamu jangan takut, saya tempelkan saja dahulu batang kemaluan ini sampai kamu nanti mau.. kata Chal merayu sambil lidahnya menjilati sekitar kuping Gina. Gina yang keenakan lalu membiarkan Chal melanjutkan aksinya, dengan menjepit pinggang Chal dengan kedua kakinya, Gina melihat batang kemaluan Chal yang besar itu ditempelkan tepat di belahan kemaluan Gina yang telah basah hanya setengah ke bawah menempel tepat di lubang kemaluan Gina sedangkan setengah lagi berada di atas belahan Gina, Gina merasa dengan posisi yang aman menerima kuluman Chal dan merasakan batang kemaluan besar milik Chal mulai secara perlahan menggeser di belahan kemaluannya.

Oohh.. Chal.. enaakk.. emmhh.. erang Gina.

Uuuff.. desah Chal keenakan.
Yaa enakk Gin.. kata Chal.
Teruss digeseek dan ditekan Chal.. pinta Gina.
Ya sayang.. kata Chal mulai mempercepat gesekan di belahan kemaluan Gina. Dengan cara naik turun posisi badan Chal terlihat seperti ingin naik dan tidak.
Tekan teruuss Chal.. erang Gina yang makin lama semakin keenakan.
Enaakk.. oohh.. puasin aku Chal.. ahkk.. desah Gina dengan suara yang telah parau.



Posisi kaki Gina telah mengangkang dengan lebar membuat Chal lebih leluasa menggerakkan badannya kadang naik-turun dan kadang mendorongkan batang kemaluannya ke depan sehingga lebih menekan belahan kemaluan Gina. Kulihat kemaluan Gina telah terbelah bibir kemaluannya karena tekanan batang kemaluan Chal yang terus bergerak menekan belahan bibir kemaluan Gina, sementara terlihat batang kemaluan Chal mulai mengambil posisi setengah ke atas, batangnya yang menggeser belahan bibir kemaluan Gina dengan sedikit tekanan yang terus menerus. Kepala batang kemaluan Chal mulai secara beraturan menyentuh dan mendorong klitoris Gina yang telah terbuka.



Aahh.. aduuhh.. ennaakk.. sshh, desah Gina sementara tangan Gina telah berada di belakang punggung Chal dan sambil menekan pantat Chal, Gina membetulkan arah gerakan batang kemaluan Chal yang terus berusaha mendobrak klitoris Gina.

Emh.. uff.. erang Chal menahan sesuatu. Aku tahu dia sudah ingin menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan Gina tapi kerena Gina tidak mengatakannya dia berusaha menahan keinginannya yang telah di kepalanya.



Chal.. Chal.. eeng.. Gina bergumam, aku tahu kalau Gina telah siap dimasuki oleh batang kemaluan besar itu. Terlihat tangan Gina gerakannya sekarang mendorong dan menarik pantat Chal sedangkan posisi kepala batang kemaluan Chal telah terbenam melewati klitoris Gina. Terlihat batang kemaluan itu mulai bergerak mengikuti arahan Gina mencoba untuk terus menerobos liang kemaluan Gina yang terasa sempit sekali untuk ukuran batang kemaluan sebesar Chal. Kepala Gina sudah menengadah ke atas dengan mata terbelalak tinggal putihnya, sementara mulutnya terbuka mengerang, Ahhkk.. sakiitt.. ahh.. Chal menahan aksinya dengan mulai menarik kepala batang kemaluannya yang telah terbenam di dalam kemaluan Gina. Dia melihat Gina dan ada perasaan sedikit takut dan ragu untuk meneruskan aksinya.

Ginaa.. Ginnaa.. akhh, desah Chal meminta kepastian kesiapan Gina apakah seluruh batang kemaluannya dapat menerobos masuk ke dalam kemaluan Gina. Tapi Gina sudah tidak dapat berkata-kata karena mulutnya hanya dapat menganga terbuka.

Ekhh.. akkhh.. oohkk, dengan keraguan Chal terus melanjutkan aksinya dengan posisi sama seperti sebelumnya. Terlihat batang kemaluan Chal terus berusaha menekan lubang kemaluan Gina dengan kepala batang kemaluannya yang besar itu, tapi dia menarik kembali ketika Gina mulai seperti orang tercekik dan mulutnya yang mengerang kesakitan.



Uuff.. uff.. uuff.. desah Chal sambil terus memajukan dan menarik pantatnya dan makin lama semakin cepat dan terlihat begitu liar gerakan keduanya. Kepala batang kemaluan Chal terus menekan klitoris Gina berulang-ulang kadang masuk kadang di luar bibir kemaluan. Akhh.. akhh.. akhh.. engg.. engg.. aakhh.. eengg.. Gina mencengkeram pantat Chal kuat-kuat dan akibat sundulan kepala batang kemaluan, Oohh.. akuu.. keluaarr.. Chal.. uuff.. aahh.. enaak.. erang Gina kelonjotan dan bergetar seluruh badan Gina di dalam pelukan Chal. Chal merasakan siraman air hangat dari dalam lubang kemaluan Gina yang terus mengalir membasahi batang dan kepala batang kemaluannya, membuat batang kemaluan itu menjadi mengkilap dan basah.


Kamuu.. keluar Giinn.. sayaa.. jugaa mauu.. uuff.. uuff.. aahh.. aahh.. desah Chal dengan nafas berirama, nafasnya terdengar keras.

Eeennakk.. oohh akuu.. puaass, Gina terus mengerang karena terus merasakan sundulan kepala batang kemaluan Chal di dalam kemaluan dan gesekan batang kemaluan Chal di bibir dan dinding luar kemaluannya. Ternyata hanya sebatas leher kepala batang kemaluan Chal yang dapat terbenam di dalam lubang kemaluan Gina dan terasa terus menggesek dinding kemaluan Gina terus menerus.
Teruss.. Chal.. tekan teruuss.. oohh.. oohh.. benar enak.. ahh.. Gina tersenyum puas melihat Chal masih terus berusaha memberikan rangsangan di sekitar dinding kemaluannya. Chal melihat Gina tersenyum dan ikut tersenyum puas.
Kamu puass.. Gin.. enak.. kan.. senyum Chal sambil menjilat bibirnya sendiri dengan lidahnya.
Biar kamuu.. puaas Ginn.. kata Chal sambil terus menghujamkan sepertiga batang kemaluannya ke dalam liang kemaluan Gina.



Terdengar bunyi, Sleepp.. ahhkk.. sleepp.. brreet.. rupanya kemaluan Gina terus semakin basah dan semakin licin untuk batang kemaluan Chal yang terjepit di lubang kemaluan Gina.

Gilaa.. kamuu rapat sekali lubangnya.. uuffhh.. susah.. Ginn.. untuk masuk.. Chal penasaran sekali dengan kemaluan Gina yang terlalu sempit. Gila memang, batang kemaluan Chal yang besar itu berhasil menggelosor keluar masuk di lubang kemaluan Gina, posisi Gina sudah ditindih oleh badan Chal. Kulihat mereka berdua telah telanjang bulat saling merapatkan dan menggesekkan badannya. Sementara kulihat juga pantat Chal melakukan irama naik turun dan kadang diselingi gerakan mendorong dan menarik.



Benar-benar membuat penasaran karena gerakan Chal, aku merubah posisi duduk ke belakang mereka, tanpa mereka sadari aku melihat dengan jelas batang kemaluan Chal yang besar dan panjang itu sebagian telah keluar masuk di dalam kemaluan Gina, sementara gerakan mereka makin lama semakin lincah karena kemaluan Gina terus mengeluarkan cairan yang membuat batang kemaluan Chal terus dapat menerobos dinding kemaluan Gina.



Aakkhh.. uuff.. eennak.. aahh.. teruuss.. tekan.. sayang.. aahh.. ngg.. aku mau batang kemaluan gedee.. ahh enaak ngentot.. Gina kelojotan dihujami batang kemaluan bule walaupun belum semua batang kemaluan Chal masuk menembus kemaluan Gina. Tangan Gina terus memberikan remasan di pantat Chal dan kadang menekan pantat itu ke bawah.



Kamuu kuat.. Ginaa.. kemaluan kamu masih sempit.. sayang.. oohh.. nikmatnya.. kemaluan.. kamuu.. enak.. adduuhh batang kemaluan sayaa.. dijepit aah enak.. haa.. haa.. mhh.. ennak.. Chal tersenyum melihat Gina merem-melek keenakan. Sleep.. poof.. sleep.. poof.. breett.. aahh.. sleep.. breet.. breet.. gerakan pantatnya menekan dua kali dan memutar dua kali pada saat posisinya menekan, terlihat pantatnya kempes memberikan tekanan agar batang kemaluannya lebih masuk lagi ke dalam kemaluan Gina setelah 2 sampai 3 kali menekan batang kemaluannya ke dalam pada saat menekan terakhir, pantat Chal memutar ke kiri dua dan ke kanan dua kali.

Gila, Gina sudah tidak sempat lagi bergerak, posisinya hanya mengangkangkan kakinya lebar-lebar terlihat jari-jari kakinya menegang dan tangannya hanya dapat memegang punggung Chal dan sekali menjambak rambut Chal kadang-kadang seperti orang kehilangan pegangan menggapai-gapai mencari pegangan. Sementara nafasnya terdengar tidak beraturan yang ada hanya lenguhan dan lenguhan disertai erangan panjang.


Dengan gerakan itu Chal telah melakukan gerakan menghujamkan kemaluan Gina yang tadinya hanya menggesek-gesek bibir kemaluan Gina, sekarang batang kemaluannya telah masuk menembus dinding kemaluan Gina yang sempit dan basah. Terlihat bibir kemaluan Gina tertarik keluar dan terdorong masuk mengikuti gerakan batang kemaluan Chal, tiga puluh menit mereka berdua saling menerima dan memberikan kepuasan. Terlihat keringat telah membasahi badan mereka berdua.


Kamuu berbalik Gina.. desah Chal, lalu Chal menarik batang kemaluannya, terdengar bunyi Plooff.. dan Gina mengambil posisi menunggingkan pantatnya (gaya anjing) dengan satu kaki di atas jok dan satu kaki di karpet mobil sementara tangannya memegang sandaran jok belakang ini, posisi yang disukai bule dan tentunya kami juga. Melihat bibir kemaluan Gina dengan jelas telah terbuka sehingga terlihat cairan di pinggiran kemaluan Gina yang telah banyak mengeluarkan air kewanitaannya. Sementara klitorisnya terus bergerak mencari sesuatu untuk digesekkan, Chal mengambil posisi tepat di belakang pantat Gina setelah lima kali meremas bongkahan daging pantat Gina dengan remasan penuh nafsu. Sekali menguakkan kemaluan Gina dengan jarinya terlihat daging dalam kemaluan Gina yang berwarna merah karena terlalu lama digesekkan batang kemaluan Chal. Dengan sedikit demi sedikit Chal mulai menempelkan kepala batang kemaluannya dibelahan kemaluan Gina dan terus menggesekkan kepala batang kemaluan tersebut ke atas dan ke bawah belahan kemaluan Gina.


Aahh.. ennaak.. Chal.. desah Gina terpejam.

Nikmatnya batang kemaluan kamuu.. enak.. Chal.. setelah delapan gesekan naik turun Gina mendesah.
Masukin Chal.. aku mau ngentot.. yang enak.. aahhk, dengan sedikit hentakan kepala batang kemaluan Chal mulai menerobos dinding kemaluan Gina. Perlahan melakukan gerakan maju mundur dan makin lama semakin terasa gerakan pantat Chal. Terlihat mulai membuat batang kemaluan Chal sebagian tenggelam di dalam kemaluan Gina.
Ahhk.. aakhh.. uuff.. ahkk.. enaak.. aahh.. oohhkk.. yaa.. teruus.. akhh.. haak! haak! hak! Chal terlihat mengeram dengan nafas yang memburu begitu juga Gina.
Ookk.. yak.. yak.. Chal mulai dengan gerakan sepenuhnya tangannya memegang pinggul Gina untuk menahan gerakan akibat dorongan batang kemaluan Chal yang menghujam semakin dalam ke dalam kemaluan Gina.



Hee.. aakhh.. okh.. nafas Chal memburu dengan cepat sementara gerakan batang kemaluannya di dalam kemaluan Gina terus keluar masuk dan kadang berputar seperti mengebor kemaluan Gina.

Akhh.. aakhh.. eennak.. giila.. gila.. aakhh.. aduh.. duh.. gila.. mentok.. ahh.. batangnya mentook.. aahk ennak mmffhh.. terus.. yaa terus.. erang Gina. Sementara kepalanya terdorong dan berputar menambah makin seksi dilihat oleh Chal.



Giinaa.. enak.. aahk.. akhh.. gilaa.. masuk.. semuaa.. Ginn.. enaak.. mmffhh aakhh puas, gilaa.. kamu.. kuat aakh.. Chal terus menghujamkan batang kemaluannya dalam-dalam ke lubang kemaluan Gina. Sementara Gina hanya bisa mengerang dan menjerit ketika kepala batang kemaluan Chal mentok di dinding rahimnya.

Aku keluarr lagi.. Chal.. aahk ah.. ahk enak.. erang Gina terpejam.



Telah 20 menit Chal memainkan batang kemaluannya di dalam kemaluan Gina, keringatnya telah menetes ke punggung Gina. Sementara punggung Gina telah terdapat lima bekas gigitan Chal, tiga di pundak Gina dua di leher belakang Gina. Sungguh buas si Chal ini kalau sedang bersetubuh, kadang-kadang tangannya meremas buah dada Gina dan meremas serta menarik ke bawah sehingga memberikan dorongan lebih menekan batang kemaluan Chal. Gina benar-benar sudah lemas dan tidak bertenaga lagi. Kepalanya sudah rebah ke jok mobil, sementara tangannya terkulai lemas, terlihat rambutnya telah basah semua dan badannya telah bermandikan keringat.


Aahk Chal, aku.. lemes.. gila.. keluarin Chal.. pinta Gina memelas.

Yaa.. akh yak.. duh.. yaa.. Ginn.. aku keluarin.. huu.. huuf.. aakh.. enaak kemaluan kamu.. akh aku mau keluarr.. aakh akh gila! Enaak.. ahh.. aku mamu keluaar.. aahh.. hak.. haakk.. uuff.. oohk.. kamu hebat Ginn.. Chal melakukan gerakan sangat cepat menghentakkan batang kemaluannya sampai berbunyi, Cepaak.. cepakk.. beradu pantat Gina dengan paha Gina dan bunyi peraduan kemaluan dan batang kemaluan.
Breet.. bret.. plooff.. broot.. ploof.. brot.. broot.. poof.. broot.. ahk.. ya.. Gina yang mengetahui Chal mulai menghentakkan batang kemaluannya dalam-dalam melakukan gerakan liar memutar dan menghisap serta memijat batang kemaluan Chal dengan lubang kemaluannya.
Akuu juga.. mau keluar.. ahh.. lagi.. Chal.. gila.. aahh.. ahh.. keluaar.. haa.. enak.. Chal tersenyum puas sambil tangannya meremas payudara Gina dan mulutnya mencium bibir Gina yang telah terkulai lemas di jok mobilku.



Keadaan menjadi hening lebih kurang lima menit, Chal tetap dalam posisi memeluk Gina dari belakang kudengar mereka berbisik dan berbicara perlahan sementara batang kemaluan Chal walaupun sudah mengeluarkan maninya di dalam kemaluan Gina terlihat masih berada di dalam kemaluan Gina, belum menyusut mengecil dan terlepas. Setelah saling membersihkan keringat dengan tissue, kami pulang dengan perasaan masing-masing puas telah saling memberikan kepuasan kepada pasangannya.

Kumpulan Cerita Seks, Cerita Dewasa, Foto Bugil. Cerita Mesum, Pemerkosaan, Ngentot ABG, Pesta Seks, Malam Pertama. Daun Muda, Hilangnya Keparawan, Perselingkuhan, Sedarah, Setengah Baya, Memek SMP, Memek SMA, Ngentot Gratis, Vudeo Bokep, Video Pemerkosaan, Penganiayaan, Telanjang, Foto Bugil.

pecinta-facebook.blogspot.com adalah situs dewasa yang menyajikan cerita-cerita seks dewasa, dan foto seks yang dimana ini hanya untuk hiburan saja.

Diperkosa sepupu pacarku

Diperkosa sepupu pacarku

Diperkosa sepupu pacarku

Kejadian Cerita Seks Remaja : ini tepatnya beberapa tahun yg silam saat itu aku masih kuliah di kota m di pulau jawa, oh ya namaku mulev (bkn nm sebenarnya) aku ga ganteng-ganteng amat ya termasuk ukuran biasa-biasa aja lah, Cerita Seks Remaja : aku seorang anak laki-laki dari 4 bersaudara, semua saudaraku perempuan, aku anak ke-3. aku seorang mahasiswa perantau dari kalimantan dan menuntut ilmu sampai ke pulau jawa.

Cerita Seks Remaja : Di Perkosa Sepupu Pacarku | www.novelremaja.com

Pada saat liburan lebaran, sudah jadi kebiasaan para mahasiswa pasti balik kekampung halamannya tak terkecuali aku, saat itu ketika lebaran sudah berakhir dan aku kembali berangkat ke jawa menggunakan kapal motor tidar, saat itu harga tiket pesawat lg mahal-mahalnya makanya untuk mengirit biaya aku menggunakan angkutan laut. saat di atas kapal aku berangkat bertiga bersama teman-temanku, maklum mereka juga kuliah tapi di kota J. saat itu kami tidur di dek kapal sambil bercengkrama dan bermain kartu tiba-tiba ada seorang gadis melintas dan biasanya tahu sendiri apa yg dilakukan anak muda, ya menggomballah!!

Akhirnya kami berkenalan namanya yati katanya sih dia bekerja di kota sidoarjo dan ke kalimantan lg menengok kakak kandungnya. "kamu sendirian aja naik kapal ini" temanku deden bertanya, "engga" yati menjawab! "aku bersama temanku, dia lagi dikamar" . "bawa sini donk" aku menimpali. akhirnya beberapa menit kemudian yati tiba bersama temannya. "woow ini mah lumayan" indra nyeletuk. “Oh yah kenalkan ini temanku yg kuceritakan tadi namanya Gina” (bkn nm sbnrnya).
Gina pun bercerita tentang dirinya kalaupun dia mahasiswi dari kota m tempat aku kuliah. wah kebetulan nih pikirku. setelah tiba di pelabuhan lalu aku berpisah dgn ke-2 temanku dan aku bersama yati dan gina meneruskan perjalanan karena satu jalur.

Akhirnya setelah pendekatan tak begitu lama akhirnya gina pun jadi pacarku. ketika malam minggu kedua aku coba beranikan diri mengajaknya jalan2 keliling kota dengan sepeda motor bututku, pas di tengah jalan tiba-tiba motorku ngadat dan akhirnya mogok. ginapun kusuruh naik taxi tapi dia menolak katanya nunggu sampai hidup motorku. wah sudah jam 10.30 malam ketika aku melihat arloji, motorku jg belum hidup. ginapun ngomong kalau jam 10.00 kostnya sudah tutup akhirnya diapun mencari wartel untuk menelpon kekost kalau dia tidur tempat sepupunya. Gina berkata kalau tidak jauh lagi ada tempat sepupunya kira-kira 250 meter lagi. pantesan dia nyantai banget pikirku.

setelah menggandeng motorku bersama gina menuju tempat sepupunya akupun merasa kelelahan dan diapun mengambilkan air minum dan mengenalkan sepupunya Lia namanya umurnya sekitar 26 tahun, montok, kelihatan masih seger dan belum menikah serta ke-2 orang tua lia. rumahnya tidak begitu besar ukuran type 36 dan memiliki 2 kamar satu kamar untuk orang tuanya lia, satunya untuk lia dan saudaranya, berhubung saudara lia sudah menikah dan ikut suaminya maka penghuni kamar itupun hanya lia seorang.
Lia meminta ijin kepada kedua orang tuanya kalau kami tidur dikamarnya saja, dan aku ditempatkan di kasur bawah sedangkan gina bersama lia tidur di atas. yah aku manut aja namanya aja numpang tidur tempat orang. tapi itu akal-akalan lia saja akupun disuruh tidur diranjang bersama mereka bertiga dengan syarat aku tidur paling ujung dan gina ditengah.

Ketika sudah larut malam kamipun tertidur tapi mataku belum bisa terpejam dan aku beranikan menjamah tubuh gina yang membelakangi tubuhku kujamah pundaknya lalu turun kedaerah pantat, kemudian gina bergerak berbalik kearahku sambil menggeliat akupun spontan terkejut, lalu dia membukakan matanya dan berbisik kepadaku kalau dia belum bisa tidur juga. lalu aku melihat ke arah lia tampaknya dia sudah tertidur lelap lalu gina berbisik kearahku kalau dia juga pengen di sayang dan dikasih kenikmatan lebih, wah bagaikan kejatuhan durian runtuh akupun langsung menyerang mulutnya secara perlahan, tampaknya permainan mulut dan lidah gina sudah mahir banget kemudian tanganku menyusup ke balik bajunya, tampaknya gina tidak memakai BH lalu akupun semakin lancar menggerayangi tubuh gina. "Lev aku pengen kamu telanjangi aku sekarang" gina berkata. "tapi nanti lia bangun" jawabku berbisik dalam beberapa menit ginapun sudah polos tanpa benang sehelaipun setelah aku comot semua pakaiannya. Lalu aku mencoba mengulum puting susunya diapun mendesah kenikmatan "Lev lebih keras lagi kau kulum" gina berbisik lirih. memang susunya gina termasuk ukuran lumayan besar yaitu 34 B dan didukung dgn tubuhnya 160 cm/50 kg. bulunya gina agak jarang ketika aku melihat di keremangan lampu tampak indah sekali lalu kepalaku mencoba turun kedaerah s*****kangannya kucoba usap dengan tanganku klitorisnya gina melenguh kenikmatan lalu kumainkan vaginanya dengan jariku dan sekali-kali dengan lidahku tampak kulihat gina lagi memeluk bantal dan menggigitnya supaya tidak didengar oleh lia kucoba kumasukan lidahku lebih dalam lagi ke liang kenikmatan gina dan kumainkan lidahku diantara dinding rahimnya kuciumin bau kewanitaannya tampak harum dan terlihat terawat lalu aku merasakan ada cairan mampir kemulutku terasa gurih dan kental, apakah gina sudah klimaks pikirku, ah persetan yang penting aku ingin menikmati isi vaginanya ini terlebih dahulu lalu tangan gina menarikku keatas, "Lev sini aku buka celanamu" gina berbisik sambil tidur. langsung dia buka kancing dan resleting celanaku tampak batang kemaluanku membesar setelah keluar dari celana dalamku. memang batang kemaluanku agak lain kepalanya lebih besar dari batangnya dgn panjang 16,5 cm tampak gina tertegun memandang!

Cerita Seks Remaja : lalu diambilnya batang kemaluanku lalu dikulumnya akupun dalam posisi terlentang dan gina diatasku sambil memainkan batang dan biji kemaluanku. gila baru kali ini aku merasakan kenikmatan luar biasa batangku di kulum oleh perempuan. gina semakin liar menjilati dan mengulum batang kemaluanku entah sadar atau tidak posisi badannya sudah menindih tubuhku dengan posisi 69 tampak didepan mataku terpampang kembali liang vagina dan pantatnya gina tanpa dikomando akupun lansung mengangkang pantatnya gin a kujilati sampai keliang kenikmatannya, ketika asyik-asyiknya bergumul tiba-tiba lia menggeliat ke arah kami tapi dia masih dalam keadaan tertidur, tapi aku curiga dia mengetahuinya dan tidak ingin mengganggu kegiatan kami. kemudian gina berbisik kepadaku kalau lubangnya ingin segera ditusuk oleh batangku. "oke tapi dibawah ranjang aja yah entar getar ranjangnya" jawabku berbisik. maka kamipun menuju ke bawah ranjang dan meneruskan pergumulan tadi, gina lalu memasang posisi doogy style karena aku yang memintanya lalu kumasukan secara berlahan batangku kekemaluannya gina tapi selalu meleset akhirnya ditangkapnya batangku dan dibimbingnya perlahan menuju lubang miliknya setelah aku coba beberapa saat akhirnya bleees.. masuklah batang kemaluanku separuh tampak wajah gina mengaduh kesakitan, kutanyakan kenapa? dia hanya menjawab enaaak... teruskan dan sesaat kemudian masuklah seluruh batang kemaluanku dan kupompa maju mundur, sungguh nikmat rasanya dan hangatnya vaginanya sigina tapi aku masih saja khawatir karena tampak matanya terbuka sedikit memperhatikan kami makanya konsentrasiku terbagi dua antara menikmati si gina dan memperhatikan mata silia namun lia tidak bergerak sama sekali seakan-akan menikmati tidurnya.

sudah 45 menit tapi aku belum ejekulasi dan si gina sudah klimaks 2 kali dan berganti posisi sebanyak 4 kali itu karena pikiranku terbagi. akhirnya pada posisi terakhir kuangkat kedua pahanya dalam keadaan gina terbaring dan kugenjot dgn kencang batangku lalu aku berbisik ke gina kalau aku sudah sampai... dan akhh.....kutumpahkan spermaku ke dalam vaginannya, akhirnya gina bisa bernapas lega dan bilang padaku kalau aku mainnya gila lama banget. Lalu kusuruh dia mencuci vaginannya di kamar mandi, lalu diapun pergi kekamar mandi untuk membersihkan cairan lelakiku. kemudian akupun kembali merebahkan diri diranjang dan kututupi tubuhku dengan selimut tanpa memakai pakaian terlebih dahulu. sesaat kemudian aku lihat Lia bangun dari ranjang dan mengunci pintu dari dalam dan mendatangi aku, 'eh apa yang kamu lakukan sama gina tadi"lia menyerangku akupun kelabakan "ga apa-apa kok" jawabku lalu diapun menarik selimutku dan tampak batang kemaluanku yang belum bangun dihadapannya dan lia berkata" kamu ga pengen kan hal ini diketahui oleh kedua orangtuaku dan orangtuanya gina", "i...iya" aku menjawab. " oke kalau begitu" lalu didekatinya kemaluanku yang belum bangun dan masih belepotan sperma diraihnya dan dikulumnya sampai habis kemulutnya, "mba, sudah mba geli" aku berkata. tidak lama kemudian batangku kembali bangkit dan aku hanya bisa pasrah tampaknya mba lia sudah piawai memainkan nafsu dan alat milik lelaki, tidak lama kemudian dia dalam keadaan sudah polos karena dia cuma memakai daster tanpa BH dan CD, ketika aku melihat susunya wih gila lebih besar daripada susunya gina kira-kira 36 B di dukung dengan pantatnya yang montok dan kulitnya yang putih. lalu diapun merayap ke puting susuku dan mengulumnya, dan kurasakan kenikmatan yang luar biasa tanpa sadar akupun berkata"terus mba, enakkk.." lalu diapun menuju kemulutku, semula aku bersikap biasa saja tapi akhirnya aku menyerah juga oleh permainan mulutnya dan melayani mba lia. Lalu diapun duduk di atas mukaku dan disuruhnya aku memainkan klirotis dan vaginannya aku pun menikmatinya, ketika lubang kewanitaannya sudah membanjir diapun berpindah posisi duduk diatasku mengambil batang kemaluanku dan memasukannya ke lubang vaginnya. gila... Batangku seakan-akan diremas-remas oleh vaginanya dan goyangannya mengalahkan miliknya gina, tiba-tiba g****g pintu bergerak hendak dibuka dan kami terdiam tapi tadi sudah dikunci sama mbak lia dari dalam dengan menekan tombol g****g pintu yang berbentuk bulat. tidak lama kemudian gerakan g****g pintu berhenti dan kami meneruskan permainan yang tertunda tadi.

"aku pengen seperti posisi kamu dan gina tadi" lia memohon. "yang mana mbak" aku bingung, "yang itu si gina nungging tadi"lia tidak sabar, "ooohh dogie style" aku mengangguk. lalu mba lia pun nungging dan aku mulai memasukan batangku bless... kenikmatan yang kedua dari wanita yang berbeda pada malam itu. "terus sayang,terus sayang, genjot lagi" pinta mba lia. akupun mulai lancar menggenjot pantat mba lia karena aku sangat menyukai type pantat yang montok. "sayang,sayang aku mau keluar....nih" mba lia berkata, "tahan mbak, sebentar lagi" aku menjawab, "ga bisa udah nanggung haaaaaaahhhhhhh............"teriakan berbisik mba lia. "yah mba, aku belum keluar nih" pintaku. "Ok sayang aku jg masih pengen kok" mba lia merespon. dia memintaku jongkok dan dia duduk diatas pangkuannya sambil diriku menahan berat badannya. "loh mba lia kok ngasih gerakan ini sih" aku sempat protes, "udah diem, mau enak kan!! aku taunya dari nonton kamasutra" mba lia cuek menjawabnya. akhirnya akupun cuma manut menuruti kemauannya. ketika aku sambil jongkok dan memeluk tubuhnya serta bermain mulut dengan mba lia, aku berkata"mba, punya mba enak daripada punya gina". "masa sih, ok deh lain kali kalau ada waktu kamu bisa main kesini atau kita janjian ditempat lain, eh tapi nanti catat no.telponmu yah" mba lia meminta. gerakan kami semakin gencar naik turun dan ini merupakan gerakan yang lain daripada yang lain yang pernah aku alam. "mba, aku mau keluar " aku berkata, "iya sayang aku juga mau keluar" mba lia merespon. dan akhirnya gerakan kami semakin kencang, "sayang keluarkan di dalam spermamu, sayang aku pengen memekku hangat" mba lia meminta. akhirnya kami klimaks secara bersamaan."Enak...sayanggggggggggg!!!! mba lia meraung pelan.

Setelah itu mba lia terkulai lemas dan akupun demikian pahaku terasa gemetar susah berdiri. "sayang lain kali aku boleh minta lagi kan" pinta mba lia. "Iya mba dengan senang hati" jawabku. setelah itu mba lia memakai dasternya dan kembali pura-pura tidur, akupun menuju kekamar kecil untuk membersihkan barangku dan aku cukup terkejut melihat gina tidur di sofa ruang tamu, sekembalinya dari kamar kecil aku menjemput gina untuk kembali ke kamar mba lia, dan kutanyakan kenapa tidur di sofa? dia menjawab kalau pintu yang tadi ditutupnya terkunci,oooohhh jawabku kenapa tidak diketuk saja, gina tidak mau membangunkan mba lia jawabnya.

Setelah peristiwa itu kami pun bersama gina lebih sering melakukan ML ditempat lain, di hotel, villa dan kontrakkanku dan untuk mencari variasi lain aku selalu menghubungi mba lia atau mba lia selalu menghubungi aku dan kami pun lebih sering bermain dirumahnya ketika ibu & bapaknya lagi tidak ada di rumah atau di villa puncak.

Cerita Seks Remaja : Sekarang aku dan gina sudah putus tapi aku masih berhubungan dengan mba lia dan sekarang sudah menikah dan mempunyai anak laki-laki 1 orang, dan aku berpikir serta merasakan kalau anak itu juga darah dagingku, terakhir aku berhubungan dengan mba lia bulan maret 2005, dan aku kembali ke kalimantan bulan april 2005 karena tugas kuliahku sudah berakhir.

Kumpulan Cerita Seks, Cerita Dewasa, Foto Bugil. Cerita Mesum, Pemerkosaan, Ngentot ABG, Pesta Seks, Malam Pertama. Daun Muda, Hilangnya Keparawan, Perselingkuhan, Sedarah, Setengah Baya, Memek SMP, Memek SMA, Ngentot Gratis, Vudeo Bokep, Video Pemerkosaan, Penganiayaan, Telanjang, Foto Bugil.

pecinta-facebook.blogspot.com adalah situs dewasa yang menyajikan cerita-cerita seks dewasa, dan foto seks yang dimana ini hanya untuk hiburan saja.

Cerita seks dewasa sepupu ayahku

kimcil solo


Cerita seks dewasa sepupu ayahku

Cerita Seks Dewasa Sepupu Ayahku – Aku Sintia. Suatu hari aku diajak papaku dateng ke pertemuan keluarga papaku. Yang dateng tentunya para om dan tante sodara2 papaku. Aku dateng ndirian karena seperti biasa suamiku masi menggeluti istri pertamanya, kerjaannya maksudku. aku kan jadi istri kebrapa, gak tau deh aku. waktunya habis untuk ngurusin bisnisnya. Memang si dari segi materi aku berkecukupan, malah lebih dari cukup, tapi dari segi yang laen aku miskin banget karena suamiku sangat sangat workaholik, jarang dirumah, kalo toh ada dirumah bawa kerjaan setumpuk sehingga kalo dah diranjang biasanya dia dah letoy banget, tinggal tidur. Karena itulah dah setahun lebi nikah aku blon hamil juga, maklumlah jablay. Ya sudah aku nrima aja dia bgitu, aku gak nuntut apa2, aku menekuni kerjaanku saja sebagai marketing. Karena gak da beban ngurus keluarga, prestasiku sebagai marketing luar biasa, bos ku seneng banget ama prestasiku, gak da klien yang sulit bagiku, slalu bisa aku tembus. Ditambah lagi, kata temen2 aku, aku ni cantik, walaupun kulitku gelap, tapi bodi imutku dihiasi tonjolan bemper depan dan belakang yang proporsional dengan ukuran tubuhku, sehingga pastilah lelaki akn memandangi aku dari ujung rambut sampe ujung kaki dan berhenti ditempat2 yang menonjol. Mungkin karena fisikku yang menarik, aku berhasil mendapatkan order dari para klien walaupun aku gak diajak ketempat tidur oleh para klienku. Memang si mereka selalu nyerempet2 kearah ranjang tapi aku slalu menghindar dengan halus, paling mereka aku ajak makan sebagai entertainnya sebagai imbalan atas order yang mreka berikan keaku. Selama ini para klien menghormati prinsipku tidak bertransaksi diranjang, walaupun aku tau mreka ngarep sekali bisa menggeluti aku diranjang. Kadang aku pengen juga si maen ma klien, palagi kalo ketemu yang ganteng, tapi aku tahan ja. Ketika sekolah dulu profesorku bilang kalo kita jualan sembari jual diri, maka reputasi kita sebagai marketer akan hancur, yang ada reputasi sebagai perek, bispak atawa bisyar yang ada.
kembali ke laptop, eh salah, ntar dituduh ngejiplak tukul ikan arwana lagi. Kembali ke pertemuan keluarga. aku dateng karena diajak papaku. Aku bete disana karena yang dateng golongan om dan tante, kalo toh ada anak yang dibawa, umurnya jauh dibawah aku, jadi aku gak da temen ngobrol. Sehabis makan, aku duduk ja diruang tamu keluarga yang bikin acara sembari ngantuk. Salah satu om yang dateng bule, kata papaku dia anak tantenya papaku yang nikah ma bule, Ganteng banget si, dia menghampiri aku dan duduk disebelahku. “Ngantuk ya Sin”. “Iya om, penyakit orang kaya”. “Kok?” dia gak ngerti maksudku. “Iya kalo abis makan slalu ngantuk”. “bisa aja kamu”, katanya sembari tertawa, “napa kok bisa gitu hayo”. “Gak tau om”. “karena abis makan darah mengalir ke perut emuanya untuk ikut menikmati makanan yang masuk, mata gak kebagian arah, makanya jadi merem melek” Ganti aku yang ketawa, bisa juga ni om bule becanda. Si om dateng ndirian, “tante gak ikut om”. “Gak dia mah sukanya dateng ke pertemuan keluarganya saja, kalo keluargaku dia gak mo ikutan”. “O gitu, ya udah Sintia nemeni om aja deh ya”. “Kamu kok dateng ndirian, misua kemana”. “Kerja, kerja en kerja”. “Kasian, jablay dong kamu”. gaul juga ni si om bule. “Iya om, kluar kota atawa kluar negri mulu, ngurus kerjaannya”. “napa kamu gak ikut”. “Kan Sintia kerja juga”. “aku yang blay kamu mau gak”, katanya sembari tertawa. “Bole juga tu om”, aku nimpalin sembarangan. “bener ni”. “Ya benerlah om”, sengaja aku nantangin si om. Dia terdiam melihat kebinalanku dalam bicara. “Gak enaklah ma papa kamu”. Kayanya dia serius banget menanggapin guyonanku. “Hihi Sintia bencanda ditanggepinnya serius”. “O becanda toh, kirain beneran mau aku blay”. “Mau juga si”. “Gimana si, becanda pa setius si”. “Ya sersan ja deh”. Paan tu”. “Serius tapi santai”. Kirain sodaranya kolonel”. “Maksud om?” “Iya kirain ada sersan yang punya sodara kolonel”. “Jauh amir beda tingkatannya?’. “Amir? sapa tu”. “iya gantinya si amat, kan amat lagi cuti”. Dia tertawa lagi, asik juga becanda ma si om bule. Ketika pertemuan keluarga selesai, selesai jugalah obrolanku ma si om bule, kami bertukar kartu nama, tapi aku gak pernah dikontak ma si om, ya aku juga gak ngontak2 dia.
Sampai satu siang, aku menjamu klienku makan siang di satu hotel bintang 5. Selesai makan, aku mengantarkan klienku keluar cafe, aku amprokan ma si om bule. “Sin, ngapain kamu dimari”. “Om ngomongnya betawi amir si”. “Ketularan yang dirumah. Kamu ngapain dimari”. “Makan ma klien, om ngapain”. “Aku juga menjamu klien, trus klien kamu mana?’” “Dah pulang om”. “Kok bisanya kebetulan ya, klienku juga dah pulang, yuk kita ngobrol dimejaku”. Aku pindah duduk dimejaku setelah memberi tahu waitress nya supaya gak dikira ngabur sebelum bayar. “Abis ini kamu ada acara gak Sin”. “Napa, mo blay Sintia ya”. Kamu serius mo aku blay”. Aku cuma senyum, bikin dia penasaran. “Sintia kan ponakan om, kok mo di blay juga si”. “Ya gak apa kan, saling membagi”. “membagi paan om”. “kenikmatan”. Aku tertawa, dalah hati aku pengen juga ngrasain kont0l bule yang katanya extra large itu. memekku basah juga membayangkan kalo dimasukin kont0l gede gitu. Dia mesen kopi buat kami berdua, “Minum kopi kan, ato masi mo makan”. “Dah kenyang om, ngopi bole juga, ditemeni orang ganteng si”. “memangnya aku ganteng?” “banget, kaya bintang holiwud”. Dia seneng aku bilangin ganteng. “Kamu dah lama gak disentuh suami ya Sin”. Aku hanya ngangguk. “Trus disentuih ma klien”. Aku ngegeleng, “trus gak pengen”. “pengen si, cuma gak ma klienlah, masak bisnis dicampur ma sahwat”. “Ya udah ma aku ja yuk, kita ke apartment kantorku aja abis ini. Kamu bawa mobil gak”. “Gak om, Sintia naek taksi aja, biar gak ribet cari parkir segala, dibayar kantor ini”. “Ya udah kamu bayar ja bill kamu dulu”. Aku memanggil waitress dan minta bill nya. si om njelasin ke waitressnya bahwa kopi yang aku minum dimasukin ke bill nya. Sambil menunggu proses bayar bill, kita ngobrol santai ja, “tante ntar marah kalo kita saling berbagi om”. “Dia kan gak taulah, lagian ni kan apartment kantor”. “Mangnya om mau ya ma Sintia”. “Iya sejak ketemu kamu ketika itu aku suka ngebayangin kaya apa nikmatnya kalo bisa ngegelutin kamu, kamu imut, trus kulit kamu gelap lagi. lebi eksotis katimbang yang putih kulitnya”. “Ih ngelanjor ya”. “Ya gak apa kan, skarang kan gak usah nglamun lagi, bisa beneran, mau ya Sin”. Aku kalah juga didesek terus, lagian napsuku pelan2 naek ngebayangin kont0l si om ngedobrak memekku yang dah lama juga gak dimasukin kont0l, palagi yang mo masuk katanya extra large. Aku ngangguk aja.
Selesai urusan bill aku dan dia, dia menggandeng aku menuju ke tempat parkir, trus mobilnya mluncur meninggalakn hotel menuju ke apartmentnya. “Om kok dapet apartment ya”. “Iya kantor nyediain, tapi tante gak mo tinggal dimari, sempit katanya”. “Padahal yang sempit yang nikmat ya om”. “Iya kamu punya pasti sempit banget ya Sin, jarang dipake”. Apartmennya memang gak besar. Ruang keluarga, ruang makan dan pantri kering jadi satu ruang, diatas pantri kering ada sederetan lemari tempat nyimpen prabotan makan, dibagian bawah pantri ada tempat lagi untuk nyimpen prabotan masak, kemudian disisi laen ada kamar tidur utama yang besar dan 2 kamar yang lebih kecil. Kemudian ada kamar mandi, wc dan ada space untuk meletakkan mesin cuci dan dryernya, sehingga gak usah menjemur pakean lagi. Memang prabotannya lengkap si, sofa, tv plasma besar, sound system, lemari es, microwave oven, blender, toaster dan kompor gas. “Padahal lengkap gini ya prabotannya om” Mubazir dong ya”. “Ya gimana, gak mau kan gak bisa dipaksa, lagian prabotan ini standard untuk semua apartment kantor”. Kamar tidur utamanya ada ranjang besar, meja rias, tv plasma tapi gak besar serta lemari pakean. Sedang kamar tidur yang kecilan cuma diisi ranjang single dan lemari pakean saja. Aku duduk ja di sofa, “penyakit orang kayanya nyerang lagi ni om”. “Ya udah boboan di kamar ja”. Aku langsung menuju ke kamar utama, bed cover gak aku lepas, dan aku berbaring diranjang dengan kakiku menjuntai kelantai. Si om ngidupin ac biar gak sumuk udaranya, maklum dah lama gak dinyalakan acnya. “Yang bersihin siapa om”. “Ada cleaning service, kadang seminggu kadang 2 minggu sekali seluruh apartment dibersihkan. Aku gak pernah tidur dimari, jadi ya seprei segala dah lama gak diganti, mo diganti dulu?” “Gak usah lah om”, kataku sambil memejamkan mata, aku beneran ngantuk.
Kurasakan ranjang bergoyang, aku membuka mata, si om berbaring miring diseblahku. Reflex akupun duduk. “Kok duduk, rebahan ja nape”. Aku masi risi ja berbaring diranjang bareng si om bule. “Santai aja Sin, kalau horny enjoy aja, gak usah malu.. itu artinya kamu normal” bisiknya sambil meremas pundakku. Remasan dan terpaan nafasnya saat berbisik menyebabkan semua bulu-bulu di tubuhku meremang, tanpa terasa tanganku meremas ujung rok. Si om menarik tanganku meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak ayal lagi tanganku jadi meremas pahanya. “Remas aja paha aku Sin daripada rok” bisiknya lagi.
Aku merasakan pahanya dalam remasanku membuat darahku berdesir keras. “Ngga usah malu Sin, santai aja” lanjutnya lagi. Entah karena bujukannya atau aku sendiri yang menginginkan, tidak jelas, yang pasti tanganku tidak beranjak dari pahanya. Merasa mendapat angin, si om melepaskan rangkulannya dan memindahkan tangannya di atas pahaku, awalnya masih dekat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan tangannya membuatku merinding. tangannya mengelus-elus dengan halus, ingin menepis, tapi, rasa geli-geli enak yang timbul begitu kuatnya, membuatku membiarkan kenakalan tangannya yang semakin menjadi-jadi. “Sin, aku suka deh liat leher sama pundak kamu” bisiknya seraya mengecup pundakku.
Aku yang sudah terbuai elusannya karuan saja tambah menjadi-jadi dengan kecupannya itu. Dia terus aja mengecup, bahkan semakin naik keleher, “Om.. ahh” desahku tak tertahan lagi. “Enjoy aja Sin” bisiknya lagi, sambil mengecup dan menjilat daun telingaku. “Ohh om” aku sudah tidak mampu lagi menahan rangsangan yang perlahan merayapi tubuhku. Aku hanya mampu tengadah merasakan kenikmatan mulutnya di leher dan telingaku. Merasa tidak puas disingkapnya rok miniku, tangannya sudah berada dipaha dalamku, diselipkannya tangannya kedalam CD-ku membelai-belai bulu-bulu tipis di permukaan memekku dan.. akhirnya menyentuh itilku. “Aaahh.. sshh.. eehh” desahku merasakan nikmatnya elusan-elusannya, jarinya merayap tak terkendali ke bibir memekku, membuka belahannya dan bermain-main ditempat yang mulai basah dengan cairan pelancar, manakala kenikmatan semakin membalut diriku. Melihat aku sudah pasrah dia semakin agresif. Tangan satunya semakin naik hingga akhirnya meremas toketku ditambah dengan kehangatan mulutnya dileherku membuat magma birahiku menggelegak sejadi-jadinya.
“Agghh.. om.. ohh.. sshh” desahanku bertambah keras. Si om
menyingkap tang-top dan bra sehingga toket 34b-ku menyembul, langsung dilahapnya dengan rakus sementara tangan satunya tetep meraba-raba memekku yang sudah basah oleh cairan pelicin. Aku jadi tak terkendali dengan serangannya, tubuhku bergelinjang keras. “Emmhh.. aahh.. ohh.. aagghh” desahanku berganti menjadi erangan-erangan.
Dia melucuti seluruh penutup tubuhku, tubuh polosku dibaringkan diranjang. “Sin kamu merangsang sekali deh, kulitmu gelap, toketmu kenceng dan memekmu imut banget”. Si om melumat bibirku dengan bernafsu lidahnya menerobos kedalam rongga mulutku, lidah kami saling beraut, mengait dan menghisap dengan liarnya. Dari bibirku, bibirnya merayap turun kearah toketku, pentilku yang kemerah-merahan jadi bulan-bulanan bibir dan lidahnya.
Diperlakukan seperti itu membuatku kehilangan kesadaran, tubuhku bagai terbang diawang- awang. aku mulai meremas punggungnya, kujambak rambutnya dan merengek-rengek memintanya untuk tidak berhenti melakukannya. “Aaahh.. om.. teruss.. sshh.. enakk sekalii” “Nikmatin Sin.. nanti bakal lebih lagi” bisiknya seraya kembali menjilat dalam-dalam telingaku.
Kemudian jilatannya turun ke pentilku, diemutnya sebentar dan menurun lagi kaearah puserku, lubang puserku diciuminya sehingga aku menggelinjang kegelian, lidahnya dijulurkannya menjilati lubang userku. “Om, geliiii…” lenguhku. Kemudian dia mulai menjilat pahaku, lama kelamaan semakin naik.. naik.. dan akhirnya sampai di memekku, lidahnya bergerak-gerak liar di itilku. aku seperti tersihir menjadi hiperaktif, pinggul kuangkat-angkat, ingin si om melakukan lebih dari sekedar menjilat, ia memahami, disantapnya memekku dengan menyedot-nyedot gundukan daging yang semakin basah oleh ludahnya dan cairanku. Tidak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, tubuhku menegang, “Aaagghh.. om… oohh” jeritku keras, dan merasakan hentak-hentakan kenikmatan didalam memekku. Tubuhku melemas.. lungai. Si om menyudahi ‘hidangan’ pembukanya, dibiarkan tubuhku beristirahat dalam kepolosan, sambil memejamkan mata kuingat-ingat apa yang baru saja
kualami.
Aku semakin tenggelam saja dalam bayang-bayang yang menghanyutkan, dan tiba-tiba kurasakan hembusan nafas ditelingaku dan rasa tidak asing lagi.. hangat basah. Ahh.. bibir dan lidah si om mulai lagi, tapi kali ini tubuhku seperti di gelitiki ribuan semut, ternyata si om sudah polos dan bulu-bulu lebat di tangan dan dadanya menggelitiki tubuhku. Tapi aku belum melihat sebrapa gede kontolnya. Mataku terpejam. Gairahku bangkit merasakan lidahnya menjalar di pentilku yang kemudian diemutnya dengan rakus, membuat tubuhku mengeliat-geliat merasakan geli dan nikmat dikedua titik sensitif tubuhku. Kemudian ia membuka kedua pahaku lebar-lebar dengan kepala sudah berada diantaranya. “Aaahh.. om.. nngghh.. aaghh” rintihku tak tertahankan lagi. Dia kemudian mengganjal pinggulku dengan bantal sehingga pantatku menjadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain dimemekku. Kali ini ujung lidahnya sampai masuk kedalam liang memekku, bergerak-gerak liar diantara memek dan anus, seluruh tubuhku bagai tersengat aliran listrik aku hilang kendali. Aku merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit merasakan kenikmatan yang tiada taranya.
Dia kembali melahap pentilku,yang satu dihisap-hisap satunya lagi dipilin-pilin oleh jari-jarinya. Dari dada kiriku tangannya melesat turun ke memekku, dielus-elusnya itil dan bibir memekku. Tubuhku langsung mengeliat-geliat merasakan kenakalan jari-jari nya.
“Ooohh.. mmppff.. ngghh.. sshh” desisku tak tertahan. “Teruss.. om.. aakkhh” Aku menjadi lebih menggila waktu dia mulai memainkan lagi lidahnya di memekku. Tubuhku setengah melonjor di pinggir ranjang dengan kaki menapak kelantai, dia berlutut dilantai dengan badan berada diantara kedua kakiku. Mulutnya mengulum-ngulum memekku, tak lama kemudian dia meletakan kedua kakiku dibahunya dan kembali menyantap ‘segitiga venus’ yang semakin terpampang dimukanya. Tak ayal lagi aku kembali berkelojotan diperlakukan seperti itu. “Ssshh.. sshh.. aahh” desisku. “Oohh.. om.. nikmat sekalii.. Gigit.. om.. pleasee.. gigitt… Auuwww.. pelan om gigitnyaa” Melengkapi kenikmatan yang sedang melanda diriku, satu tanganku mencengkram kepalanya. tanganku yang lainnya meremas-remas toketku sendiri serta memilin pentilnya.
Beberapa saat kemudian kita berganti posisi, aku yang berlutut di lantai, baru aku lihatnya kontolnya yang extra large itu, besar panjang berwarna putih dan sudah keras sekali. kujilat batangnya yang besar dan sudah keras membatu itu, si om mendesah-desah merasakan jilatanku. “Aaahh.. Sin.. jilat terus.. nngghh” desahnya.
“Jilat kepalanya Sin” aku menuruti permintaannya yang tak mungkin kutolak. lidahku berputar dikepala kontolnya membuat dia mendesis desis. “Ssshh.. nikmat sekali Sin.. isep sayangg.. isep” pintanya disela-sela desisannya. Dia memanggilku sayang, mesranya. kepala kontolnya pertama-tama kumasukan kedalam mulut, dia meringis. “Jangan pake gigi Sin.. isep aja” protesnya, mulutku penuh kemasukan palkon yang gede itu sehingga gigiku menyentuh palkonnya yang sensitif itu. kucoba lagi, kali ini dia mendesis nikmat. “Ya.. gitu sayang.. sshh.. enak.. Sin” sebagian kontolnya melesak masuk menyentuh langit-langit mulutku. Aku mengulum kontolnya, kepalaku turun naik, sekali-kali kujilat palkonnya bagai menikmati es krim. Setiap gerakan kepalaku sepertinya memberikan sensasi yang luar biasa baginya. “Aaahh.. aauugghh.. teruss sayangg” desahnya, “Ohh.. sayangg.. enakk sekalii”. aku memvariasikan emutan dengan kocokan kontolnya yang separuhnya berada dalam mulutku. Beberapa saat kemudian si om mempercepat gerakan pinggulnya dan menekan lebih dalam batang kontolnya, tanganku tak mampu menahan laju masuknya kedalam mulutku. Aku menjadi gelagapan, ku geleng-gelengkan kepalaku hendak melepaskan benda panjang itu tapi malah berakibat sebaliknya, gelengan kepalaku membuat kontolnya seperti dikocok-kocok. Dia bertambah beringas mengeluar-masukan batangnya dan..“Aaagghh.. nikmatt.. Sin.. aku.. kkeelluaarr” jeritnya, pejunya menyembur-nyembur keras didalam mulutku membuatku tersedak, sebagian meluncur ke tenggorokanku sebagian lagi tercecer keluar dari mulutku. Aku sampai terbatuk-batuk dan meludah-ludah membuang sisa yang masih ada dimulutku. “Sorry Sin, ngga tahan.. abis isepan kamu enak banget”. Dia mengambilkan aku minum dan membersihkan sisa peju dari mulutku.
Dia memelukku dengan lembut. Dikecupnya keningku, hidungku dan bibirku. Kecupan dibibir berubah menjadi lumatan-lumatan yang semakin memanas, kami pun saling memagut, lidahnya menerobos mulutku meliuk-liuk bagai ular, aku terpancing untuk membalasnya. Ohh.. sungguh luar biasa permainan lidahnya, leher dan telingaku kembali menjadi sasarannya membuatku sulit menahan desahan-desahan kenikmatan yang begitu saja meluncur keluar dari mulutku. Luar biasa staminya, baru aja ngecret dimulutku, kontolnya dah kembali mengeras. Tak lama kemudian dia merayap naik keatas tubuhku, dia membuka lebih lebar kedua kakiku, dan kemudian kurasakan ujung palkonnya menyentuh mulut memekku yang sudah basah oleh cairan cinta.“Ohh.. om.. ngga tahann.. masukin dong” pintaku. tanganku menggapai batang kontolnya, kuarahkan kemulut memekku dan kugesekkan pada itilku. “Aaagghh” lenguhku panjang merasakan kenikmatan gesekan palkonnya pada itilku. Si om juga dah gak nahan lagi, ditekannya pelan sehingga palkon gedenya mulai melesak kedalam memekku. “Aauugghh.. om.. pelann” jeritku lirih. Dia
menghentikan dorongannya, sesaat ia mendiamkan palkonnya dalam kehangatan liang memekku. Kemudian-masih sebatas ujungnya-secara perlahan ia mulai memundur-majukannya. Sesuatu yang aneh segera saja menjalar dari gesekan itu keseluruh tubuhku. Rasa geli, enak dan entah apalagi berbaur ditubuhku membuat pinggulku mengeliat-geliat mengikuti tusukan-tusukannya. “Ooohh.. om.. sshh.. aahh.. enakk om” desahku lirih.
Aku benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa akibat gesekan-gesekan di mulut memekku. Mataku terpejam-pejam kadang kugigit bibir bawahku seraya mendesis. “Enak.. Sin” tanyanya berbisik. “Banget om.. oohh enakk.. om.. sshh”
“Nikmatin Sin.. nanti lebih enak lagi” bisiknya lagi. “Ooohh.. om.. ngghh”. Dia terus mengayunkan pinggulnya turun-naik-tetap sebatas ujung palkonnya -dengan ritme yang semakin cepat. Selagi aku terayun-ayun dalam buaian birahi, tiba-tiba dia menekan kontolnya lebih dalam membelah memekku. “Auuhh.. sakitt om” jeritku, dia menghentikan tekanannya. “Kont0l om extra large si, mem3k Sintia kan baru skali ini kemasukan yang gede gini”.
“Pertama sedikit sakit Sin. nanti juga hilang kok sakitnya” bisiknya seraya menjilat dan menghisap telingaku. Entah bujukannya atau karena geliat liar lidahnya, yang pasti aku mulai merasakan nikmatnya kontolnya yang besar-keras dan hangat didalam rongga memekku. Dia kemudian menekan lebih dalam lagi, membenamkan seluruh batang kontolnya dan mengeluar-masukannya. Gesekan kontolnya dirongga memekku menimbulkan sensasi yang luar biasa! Setiap tusukan dan tarikannya membuatku
menggelepar-gelepar. “Ssshh.. ohh.. ahh.. enakk om.. empphh” desahku tak tertahan. “Ohh..Sin.. enak banget mem3k kamu.. oohh” pujibya diantara lenguhannya. “Agghh.. terus om.. teruss” aku meracau tak karuan merasakan nikmatnya hujaman-hujaman kontolnya di memekku. Peluh-peluh birahi mulai menetes membasahi tubuh. Jeritan, desahan dan lenguhan mewarnai pergumulan kami. Menit demi menit kontolnya menebar kenikmatan ditubuhku. Magma birahi semakin menggelegak sampai akhirnya tubuhku tak lagi mampu menahan letupannya.
“Om.. oohh.. tekan om.. agghh.. nikmat sekali om” jeritan dan erangan panjang terlepas dari mulutku. Tubuhku mengejang, kupeluk dia erat-erat, magma birahiku meledak, mengeluarkan cairan kenikmatan yang membanjiri relung-relung memekku. Tubuhku terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama.
Beberapa menit kemudian dia mulai lagi memacu gairahku, hisapan dan remasan didadaku serta pinggulnya yang berputar kembali membangkitkan birahiku. Lagi-lagi tubuhku dibuat mengelepar-gelepar terayun dalam kenikmatan duniawi. Tubuhku dibolak-balik bagai daging panggang, setiap posisi memberikan sensasi yang berbeda. Entah berapa kali memekku berdenyut-denyut mencapai klimaks tapi dia sepertinya belum ingin berhenti menjarah tubuhku. aku secara reflex mulai menggerakan pinggulku kekiri kekanan, karuan saja dia mengeliat-geliat merasakan kontolnya diurut-urut oleh memekku. Sebaliknya, kontolnya yang menegang keras kurasakan seolah mengoyak-ngoyak dinding dan lorong memekku. Suara desahan, desisan dan lenguhan saling bersaut. Selagi posisiku di atas kedua tangannya memainkan toketku. Apalagi ketika tanganku mulai bermain-main diitilku ndiri membuatku menjadi tambah meradang. Kutengadahkan kepalaku, mulutku yang tak henti-hentinya mengeluarkan desahan. Pinggulku semakin bergoyang berputar, mundur dan maju dengan liarnya. Aku begitu menginginkan kontolnya mengaduk-aduk seluruh isi rongga memekku. “Aaargghh.. Sin.. enak banget.. terus Sin.. goyang terus” erangnya. Erangannya membuat gejolak birahiku semakin menjadi-jadi, kuremas toketku sendiri. Ohh aku sungguh menikmati semua ini.
Si om yang merasa kurang puas meminta merubah posisi. Akupun merangkak dan dia menggesek-gesek bibir memekku dengan
palkonnya dari belakang. Tubuhku bergetar hebat, saat kont0l besarnya dengan perlahan menyeruak menembus bibir memekku dan terbenam didalamnya. Tusukan-tusukan kontolnya serasa membakar tubuh, birahiku kembali menggeliat keras. Aku menjadi sangat binal merasakan sensasi erotis batang kontolnya didalam memekku. Namun hujaman-hujaman kontolnya yang begitu bernafsu dalam posisi ‘doggy’ dapat membuatku kembali merintih-rintih. Apalagi ditambah dengan elusan-elusan Ibu jarinya dianusku. Bukan hanya itu, setelah diludahi dia bahkan memasukan Ibu jarinya ke lubang anusku. Sodokan-sodokan dimemekku dan Ibu jarinya dilubang anus membuatku mengerang-erang. “Ssshh.. engghh.. yang keras om.. mmpphh,…Enak banget om.. aahh.. oohh” Mendengar eranganku dia tambah bersemangat menggedor kedua lubangku, Ibu jarinya kurasakan tambah dalam menembus anusku, membuatku tambah lupa daratan.
Sedang asiknya menikmati, dia mencabut kontolnya dan Ibu jarinya. “Om.. kenapa dicabutt” protesku. “Masukin lagi om.. pleasee” pintaku menghiba. Sebagai jawaban aku hanya merasakan ludahnya berceceran di lubang anusku, tapi kali ini lebih banyak. Aku masih belum mengerti apa yang akan dilakukannya.
Saat dia mulai menggosok palkonnya dilubang anus baru aku sadar apa yang akan dilakukannya. “om.. pleasee.. jangan disitu” aku menghiba meminta dia jangan melakukannya. Dia tidak menggubris, tetap saja digosok-gosokannya, ada rasa geli-geli enak kala ia melakukan hal itu. Dibantu dengan sodokan jarinya dimemekku hilang sudah protesku. Tiba-tiba kurasakan palkonnya sudah menembus anusku. Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit batang kontolnya membelah anusku dan tenggelam habis didalamnya. “Aduhh sakitt om.. akhh..!” keluhku pasrah karena rasanya mustahil menghentikannya. “Rileks Sin.. seperti tadi, nanti juga hilang sakitnya” bujuknya seraya mencium punggung dan satu tangannya lagi mengelus-elus itilku. Separuh tubuhku yang tengkurap sedikit membantuku, dengan begitu memudahkan aku untuk mencengram dan mengigit bantal untuk mengurangi rasa sakit. Berangsur-angsur rasa sakit itu hilang, aku bahkan mulai menyukai kont0l kerasnya yang menyodok-nyodok anusku. Perlahan-lahan perasaan nikmat mulai menjalar disekujur tubuhku. “Aaahh.. aauuhh.. oohh om” erang-erangan birahiku mewarnai setiap sodokan kontolnya yang besar itu. Dia dengan buasnya menghentak-hentakan pinggulnya. Semakin keras dia menghujamkan kontolnya semakin aku terbuai dalam kenikmatan.
Akhirnya dia mencabut kontolnya dari anusku dan merebahkan diri terlentang ditempat tidur dengan kepala beralas bantal, tubuhku ditarik menindihinya. Sambil melumat mulutku-yang segera kubalas dengan bernafsu-ia membuka lebar kedua pahaku dan langsung menancapkan kontolnya kembali kedalam memekku.
Dia memagut leherku dan satu tangannya meremas buah dadaku,
dan melengkapinya dengan menghisap pentilku satunya. Aku sudah tidak mampu lagi menahan deraan kenikmatan demi kenikmatan yang menghantam sekujur tubuhku. Hantaman-hantamannya yang semakin buas sungguh tak terperikan rasanya. Hingga akhirnya kurasakan sesuatu didalam memekku akan meledak, keliaranku menjadi-jadi. “Aaagghh.. ouuhh.. om.. tekaann” jerit dan erangku tak karuan. Dan tak berapa lama kemudian tubuhku serasa melayang, kucengram pinggulnya kuat-kuat, kutarik agar kontolnya menghujam keras dimemekku, seketika semuanya menjadi gelap pekat. “Aduuhh.. om.. nikmat sekalii” “Aaarrghh.. Sin.. enakk bangeett” Dia menekan dalam-dalam kontolnya, cairan hangat menyembur dimemekku. Tubuhku bergetar keras didera kenikmatan yang amat sangat dahsyat, tubuhku mengejang berbarengan dengan hentakan-hentakan dimemekku dan akhirnya kami.. terkulai lemas.
“Sin, nikmat banget deh ngentotin kamu, mem3k kamu peret banget deh, kedutannya berasa banget”. “Sintia juga nikmat banget om dimasukin kont0l om yang super gede, penuh deh mem3k Sintia jadinya. Kalo om amblesin smuanya rasanya sampe ke perut deh, kapan om ngasi Sintia kenikmatan kaya gini lagi”. “Bisa diatur kok Sin”.

Kumpulan Cerita Seks, Cerita Dewasa, Foto Bugil. Cerita Mesum, Pemerkosaan, Ngentot ABG, Pesta Seks, Malam Pertama. Daun Muda, Hilangnya Keparawan, Perselingkuhan, Sedarah, Setengah Baya, Memek SMP, Memek SMA, Ngentot Gratis, Vudeo Bokep, Video Pemerkosaan, Penganiayaan, Telanjang, Foto Bugil.

pecinta-facebook.blogspot.com adalah situs dewasa yang menyajikan cerita-cerita seks dewasa, dan foto seks yang dimana ini hanya untuk hiburan saja.

Sepupuku dan adiknya masih perawan

perawan solo

Sepupuku dan adiknya masih perawan

Waktu itu tahun 1996, bulan September, aku baru saja pulang dari KKN di desa, di daerah Kabupaten Blora (sekarang masuk Kabupaten Cepu), dua hari setelah sampai di rumah, ada telepon dari salah satu sepupuku, katanya dia sedang Study Tour ke kotaku. Sepupuku ini masih sekolah di SMUK di daerah Madiun, sebenarnya aku belum pernah bertemu langsung dengan dia, jangan heran ya, sebab dia sepupu jauh sekali. Sepupuku ini baru sempat bertemu dengan orang tuaku dan kakakku saja sewaktu mereka pergi ke daerah asal sepupuku di Jawa Timur. Nah, ketika dia Study Tour ke kotaku, dia ingin mampir dan menginap di rumahku, terus dia minta dijemput di depan salah satu bank di dekat Jalan yang jadi trade marknya kotaku. Maka, aku bersama kakakku menjemput dia.

Jam 4:25 sore, aku sampai di depan bank tersebut. Mobil kuparkir, lalu aku bersama kakakku sambil membawa dua payung menghampiri bis-bis yang diparkir di depan bank, agak lama juga aku mencari sepupuku ini, maklum aku belum pernah bertemu dia dan kakakku sendiri agak lupa dengan wajahnya. Setelah kurang lebih 5 menit, akhirnya bertemu juga. Kemudian kami pulang ke rumahku, dia senang sekali bisa bertemu denganku. Awalnya dia berencana mau menginap 1 hari tetapi kemudian dirubah jadi 2 hari. Sepupuku ini tidak punya saudara laki-laki, jadi ketika kami bertemu, dia senang sekali dan menganggap aku seperti kakak kandungnya. Selama dia menginap di rumah, dia selalu ingin dekat denganku terus. Aku menganggap biasa-biasa saja dan tidak ada pikiran lain.

Ketika dia mau pulang, dia mau pulang sendirian, orang tuaku sepertinya tidak tega melepas dia pulang sendirian, akhirnya aku disuruh mengantar dia pulang ke Jawa Timur, padahal waktu itu aku sedang berobat jalan karena aku mengidap alergi serpihan kulit manusia (aneh ya..? aku saja dulu tidak percaya). Aku harus datang ke dokter pribadiku setiap hari Selasa dan Jum’at buat disuntik. Tetapi, menurutku tidak apa-apa karena kupikir nanti jika sudah sampai di sana, aku langsung pulang saja pikirku. Jadilah aku mengantar dia pulang ke Jawa Timur. O.. iya, sebelum terlalu jauh aku bercerita, kuperkenalkan dahulu diriku, namaku Padi dan nama sepupuku Ana. Di jalan kami bercerita tentang daerah asalnya yang ternyata ada di kawasan pantai utara Jawa Timur.

Kami mampir ke Madiun dulu, karena katanya dia mau mengambil baju-bajunya yang mau dibawa sekalian dicuci di rumah. Sampai di Madiun, kira-kira pukul 5:00 sore, kami menuju tempat kosnya yang sederhana di komplek Akabri. Setelah selesai dengan urusan di Madiun, kami langsung pergi lagi meneruskan perjalanan. Di perjalanan, aku bertanya dengan dia.
“Eh, An.. dari sini sampai ke kotamu berapa lama sih..?” tanyaku.
“Ya… mungkin kira-kira 8 jam Mas..” katanya.
Dalam hati aku berpikir, “Wah, bakalan capek di jalan nih.. sialan…”

Waktu berlalu, kira-kira pukul 9 malam, kami masih ada di atas bis jurusan ke kotanya. Malam itu kurasakan sangat dingin, apalagi ditambah tiupan angin yang sangat kencang. Di dalam bis yang lumayan penuh itu, aku duduk di kursi kedua dari belakang sejajar dengan Ana. Pintu bis yang ada di sebelah kananku ternyata tidak bisa ditutup, karena kuncinya rusak kata kernetnya. Ana yang merasa kedinginan terkena tiupan angin, bingung mau bagaimana sebab dia tidak membawa jaket atau sweater buat penghangat, sedangkan aku sendiri tidak masalah. Kemudian kutawarkan dia untuk pindah tempat duduk di sebelah kananku, yah.. lumayan dia terlindung dari angin oleh badanku.

Sekitar 10 menit setelah itu, dia bilang katanya dia merasa mengantuk, aku tawarkan dia untuk tidur saja di pangkuanku. Dia mau dan langsung dia rebahkan kepalanya di pahaku, waktu itu aku sebenarnya agak kawatir dengan penumpang lainnya. Jangan-jangan ada yang berpikiran macam-macam tentang kami, meskipun begitu aku akhirnya memutuskan untuk santai saja. Si Ana dengan cepat tertidur dengan pulasnya, tanganku kutaruh di atas punggungnya biar dia merasa lebih hangat. Tawaranku untuk tidur di pahaku ternyata berbekas sekali di hati sepupuku ini, sepertinya dia merasa ada sesuatu yang lain yang dirasakannya setelah dia merebahkan kepalanya di pahaku. Mungkin karena dia masih anak SMU yang belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang cowok, tetapi kok ya kebetulan justru dengan kakak sepupunya sendiri.

Tidak terasa, bis telah memasuki terminal di kotanya. Waktu itu jam 1 pagi. Kami langsung mencari becak untuk pulang ke rumahnya. Sampai di rumahnya yang sederhana (bapaknya bekerja sebagai sipir penjara dan ibunya guru SD), aku langsung disambut oleh Omku. Kami berbincang-bincang sejenak sambil nonton MTV. Tidak lama kemudian, Omku minta diri untuk tidur. Aku mempersilakan Omku untuk tidur. Aku sendirian yang belum merasa mengantuk dan meneruskan melihat TV. Si Ana sendiri ada di kamarnya sedang bicara dengan adiknya. Kira-kira 5 menit kemudian, kudengar ada orang datang masuk ke ruang TV dimana aku berada, yang Ternyata Ana.

Aku bertanya pada dia, “Lho.. An, kamu ngga tidur? Kan udah malem, bahkan pagi nih!”
“Lah.. mas sendiri gimana? Kok ngga tidur juga?” dia balik bertanya.
“Mas kan udah biasa melek sampai pagi, lagian acaranya bagus nih, MTV music Awards.”
“Iya deh… tapi Ana boleh nemenin Mas ngga?”
“Boleh aja, asal bikinin Mas kopi panas dong…”
“Ih.. Mas curang.. Oke deh Ana buatin.”
Kemudian dia beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untukku. Sewaktu dia jalan ke dapur, dia melewati ruangan makan yang gelap, sedangkan ruang dapurnya sendiri dibiarkan terang, sebab Omku orangnya suka makan, jadi kalau malam dia sering ke dapur untuk cari makanan.

Sewaktu dia melewati kamar makan yang kebetulan bisa terlihat dari tempat dudukku, aku agak kaget karena kulihat dasternya kelihatan menerawang terkena cahaya dari dapur. Si Ana ini sebenarnya tidak hanya manis tetapi juga cantik, tubuhnya agak gemuk, tinggi sekitar 158 cm, ukuran dadanya berapa ya? Tidak tahu.. Kulitnya sawo matang dan yang paling menarik adalah matanya yang khas cewek Jawa, tidak besar juga tidak kecil. Sekilas kulihat bentuk tubuhnya sewaktu dia melewati ruang makan. Jantungku merasa agak berdebar karena aku kan laki-laki, jadi lihat yang seperti itu kan, ya gimana gitu. Selesai dia membuat kopi, segera dia menuju ke arahku, terus dia bergabung nonton MTV. Sejenak aku lupa akan kejadian yang mendebarkan tadi (menurutku lumayan mendebar kan lho).

Kami berbincang-bincang sambil mengomentari pemenang-pemenang yang sedang diumumkan di TV.
Tiba-tiba dia nyeletuk, “Mas.. tadi enak lho tiduran di pangkuannya Mas..”
“Kenapa emangnya? Mau lagi ya, sini deket-deket Mas..?” kataku.
“Oke deh!”
Kemudian dia mendekat ke arahku dan merebahkan kepalanya di pahaku lagi. Nah, sekarang aku mulai berpikiran macam-macam nih, karena kan dia hanya memakai daster dan di dalam dasternya hanya ada CD dan BH saja. Mau tidak mau batangku mulai bereaksi pelan-pelan, tetapi dia tidak tahu. Masih sekitar 10 menit kami berbincang-bincang, tanganku kutaruh di atas pinggulnya, dan kurasa dia tidak keberatan. Lama-lama sepertinya dia mengantuk dan mulai sembarangan kalau menjawab pertanyaan atau komentarku.

“An.. geser dikit dong, soalnya pahaku kesemutan nih! Sebentar, ganti pake bantal aja yah…?”
Kemudian kuangkat kepalanya, kupindahkan dia ke bantal yang ada di sofa, sedangkan kakinya kuangkat ke atas pahaku. Singkat cerita, dia sudah tertidur dengan pulas. Pikiranku mulai keluar pikiran iseng, tanganku aku rabakan di kakinya. Sambil pura-pura memijat, dari bawah pelan-pelan naik ke atas, terus turun lagi, naik lagi… lama-lama aku memijatnya terlalu naik sampai hampir menyentuh pangkal pahanya. Rupanya dia terbangun.
“Ngapain Mas..?”
“Eh.. ngga kok cuman mijitin, kan kamu capek barusan abis naik bis jarak jauh?”
“Mmm.., boleh juga.. tapi mijitnya jangan keras-keras ya Mas…”
“Oke An..”

Nah, aku teruskan kembali memijatnya, tetapi kali ini mijatnya lain, aku kan sedikit-sedikit pernah baca tentang pijatan erotis, maka aku mencoba untuk mempraktekkannya sekarang. Pertama kuletakkan tanganku di telapak kakinya, terus kucari simpul yang bisa membangkitkan gairah seksnya.
“Nah, ketemu nih…” batinku.
Pelan-pelan kupijat bagian itu sambil tanganku yang satunya juga memijat-mijat paha kanannya.

Setengah sadar dia bertanya, “Mas, kok enak banget sih pijitannya?”
“Tenang aja deh, yang ini belum apa-apa, entar ada yang lebih hebat.” jawabku.
Lama kelamaan dia jadi tidak merasa ngantuk, tetapi menikmati pijatan-pijatan tanganku sambil mengeluarkan suara lenguhan yang sangat merangsang, “Nngggh… ngghh… enak loh Mas… agak naik dikit Mas.. yang ini lho di atas dengkul…, ya.. di situ… terus.. terus..”

Aku tahu dia tidak sadar kalau sedang aku kerjain. Lama-lama kulihat dia sepertinya mau bangkit dari tidurnya. Kemudian waktu kubiarkan, ternyata dia tiba-tiba memelukku dan berusaha mencium bibirku. Aku sendiri menyambut ciumannya dengan bersemangat.
“Wah, lha ini nih yang kunanti,” batinku.
Ciumannya lumayan dahsyat, sampai lidahnya masuk ke mulutku seperti ular. Lidahku sendiri jadi tidak mau kalah menyambut lidahnya yang masuk ke mulutku (heran juga anak ini kok bisa senekat ini pikirku). Dan ternyata, kok luar biasa ciummannya untuk ukuran anak SMU yang belum pernah pacaran, tangannya melingkar di punggungku dan berusaha masuk ke dalam t-shirtku.

Gerakan tubuhnya terlihat sekali terbakar oleh rangsangan yang kuberikan melalui pijatan tadi, tubuhnya naik turun sambil sesekali bergoyang ke kiri dan ke kanan. Lama-lama daster yang dia kenakan tertarik ke atas oleh karena gerakannya tersebut, dan tanganku pun bisa leluasa untuk memegang pantatnya. Dia memakai celana dalam yang tipis berenda. Pelan-pelan kumasukkan tanganku ke dalam CD-nya dari atas. Aku berhasil memegang pantatnya, wah.. seketika aku merasakan suatu gelora dalam diriku, sepertinya aku sendiri mulai terserang rangsangan yang sangat kuat. Aku pijat-pijat pantatnya, sementara kami masih saling berpagut, dia sendiri terlihat sangat menikmati pijatan tanganku pada pantatnya. Lalu aku mulai menaikkan tanganku, berusaha untuk membuka dasternya. Tanpa hambatan, aku berhasil menaikkan dasternya sampai ke bagian leher, kudorong dia pelan-pelan ke belakang, dia berusaha untuk tetap memelukku.

Aku berbisik padanya, “An.. tolong kamu mundur sebentar, aku tolong kamu nglepasin dastermu.”
Dia mengangguk pelan, lalu kubuka dasternya. Kulihat tubuhnya yang mulus hanya ditutupi BH dan CD saja.
“An.. gimana kalo semuanya aku buka…?” tanyaku.
Ternyata ia mengangguk mengiyakan, “Silakan Mas…”
Kubuka pelan-pelan BH-nya sambil kubelai dua bukit di dadanya dengan lembut.
“Ehm… Mas.., Ana sayang sama Mas…” katanya.
Aku tidak menjawab perkataannya. Kemudian kudekatkan wajahku ke buah dadanya dan mulai mengulum-ngulum pucuk bukitnya. Dia terlihat sangat menikmati perlakuanku tersebut, matanya terlihat sayu dan sepertinya mengharap yang lebih dari sekedar dikulum pucuk bukitnya.

Aku menengok ke arah jam dinding yang terletak di atas pintu, jarum menunjukkan pukul 12:08 malam. Aku sempat berpikir, sebenarnya bahaya kalau tiba-tiba Om atau Tanteku memergoki kami yang sedang asik di sini. Sekejap aku memutar otak, aku lalu berbisik ketelinga Ana.
“An.. kita pindah ke kamarku aja yah?”
Dia tersentak mendengar bisikanku. Aku sendiri kaget, “Apaan nih? Kok jadi medadak berubah?”
Aku rasakan ternyata Ana sepertinya tersadar atas apa yang sedang diperbuatnya. Dengan terburu-buru, dia menyambar pakaiannya dan berusaha lari menuju kamarnya. Cepat sekali kejadian itu berlalu, aku sendiri tidak sempat melakukan apa-apa, aku hanya melongo seperti Mandra diputus Munaroh. Gila, pembaca tahu sendiri kan? Lagi enak-enak bercumbu, tidak tahunya putus di tengah jalan. Tetapi aku sendiri maklum, sebenarnya Ana adalah anak yang taat beribadah. Dan kuyakin yang barus saja kualami, sebenarnya dia melakukannya di bawah sadar.

Paginya, aku bangun sekitar pukul 9:00, ternyata aku semalam ketiduran di depan TV. Aku ngucek-ucek mataku sambil mencari dimana kacamataku, agak lama kucari, tetapi tidak ada.
“Mana ya?” aku bergumam pelan.
Kebetulan Tante yang berjalan melewati ruang TV menuju dapur mendengar gumamanku.
“Cari apa Di?” tanya Tanteku.
“Tante liat kacamata Padi ngga?”
“Ngga tuh.. mungkin jatuh di bawah meja, coba cari lagi,” sambil dia berjalan menuju ke arahku ingin membantu mencari.
Dicari-cari sudah lama, tetap tidak ketemu, “Yep.. nanti dicari lagi deh Tante.. biar Padi mandi dulu.” kataku.
“Oke lah, nanti Tante bantu lagi carinya.”
“Oke Tante..” sahutku.
Aku bergegas menuju ke kamarku, mengambil peralatan mandiku.

Kamarku terletak di sebelah kamar Ana, sempat kulihat dari celah kamar yang tidak tertutup semua. Ana masih kelihatan pulas tidurnya. Mungkin dia tidak bisa tidur setelah kejadian tadi malam. Habis mandi aku menuju ke ruang TV lagi untuk mencari kacamataku yang masih sembunyi. Ternyata tante sudah ada di sana sedang nonton TV.
Aku tanya ke tante, “Ketemu ngga kacamatanya Tante?”
“Ngga tuh Di.. udah tante cari dimana-mana ngga ada, sampai-sampai sekalian Tante ngebersihin ruang ini deh.”
“Waduh… gimana nih… susah deh. Aku kan ngga bisa baca kalo ngga pake kacamata,” pikirku, “Ya apa mau dikata, kalo lagi apes, gini deh jadinya.”

Pukul 9:30, kulihat kamar Ana sudah terbuka, beberapa menit kemudian Reni (ini nama adiknya) bergabung dengan kami di ruang TV sambil membawa nampan berisi 4 gelas teh.
Aku tanya dia, “Kok cuman empat gelasnya Ren?”
“Ooo, Papa kan udah berangkat kerja Mas.., jadi Reni bikinnya cuman 4.” jawabnya.
“Gitu ya?” sahutku.
Kami lalu berkumpul membicarakan keadaan Kota Tuban, tiba-tiba si Reni bertanya ke Tante.
“Ma.. kacamata yang di kamar Reni itu punya siapa sih?” tanyanya.
“Eit! lha ini dia nih si kacamata.. ternyata ngumpet di sana,” spontan aku menyahut, “Heh! Itu pasti kacamataku.”
“Betul.. itu pasti kacamatanya Mas Padi, Ren!” sahut Tante, “Sana cepet ambilin!”
Reni lalu berdiri dan mesuk kamar untuk mengambil kacamataku. Aku berpikir, mungkin kacamataku semalam kesangkut di bajunya Ana. Sesaat kemudian Reni kembali membawa kacamataku, aku sempat was-was, moga-moga Tante tidak curiga kenapa kok kacamataku sampai bisa mampir kesana. Memang ternyata dia tidak curiga sama sekali.

Pukul 10:00, Tante pamit mau berangkat ke pasar yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumahnya, si Reni ikut. Aku ditinggal sendirian. 5 menit waktu berlalu, aku mulai bosan, terus aku menuju teras depan ingin merokok. Di teras ternyata ada koran edisi hari itu, aku tertarik untuk membacanya. Kubolak-balik halamannya, tidak ada yang menarik. Bosan lagi deh, ngelamun jadinya. Aku teringat kejadian tadi malam.
Dalam hati aku berpikir, “Sekarang di rumah cuman ada aku berdua sama Ana. Wuih! kalo… hehehe kalo… misalnya aku iseng gimana ya?”
Akhirnya, ternyata aku nekat juga.

Aku bangkit dari tempat dudukku, masuk ke dalam. Sampai di depan pintu kamarku, aku punya ide. “Mmmm harusnya pintu depan kututup ya, terus aku pasangkan kaleng krupuk di bagian dalam, biar kalo kebuka dari luar kalengnya kegeser dan bikin suara brisik.” pikirku.
Cepat-cepat kukembali ke ruang tamu dan melakukan rencanaku. Setelah itu, aku kembali lagi ke kamar, hati-hati kuintip ke dalam kamarnya Ana, ternyata dia masih pulas tertidur. Aku berjingkat masuk ke kamarnya, perlahan aku duduk di samping tidurnya. Dia tidurnya mengorok hingga aku mau tertawa waktu itu, tetapi kutahan karena takut dia terbangun. Dengan hanya diterangi lampu baca (kamarnya tidak ada jendelanya), kupandangi wajahnya lama. 5 menit lebih kupandangi dia, semakin lama semakin manis.
“Gila ya, dengan adik sepupu kok seperti itu?” tapi pikirku, “Biarin aja lah, iseng-iseng berhadiah.”

Kemudian aku mulai mencoba membelai rambutnya, pelan tetapi pasti. Dia tidak bereaksi, dia tidurnya brukut (memakai selimutnya sampai menutupi leher). Aku berusaha membuka selimutnya perlahan, kutarik ke bawah dan dia tetap tidak bereaksi. Kumasukkan tanganku ke dalam selimutnya sambil berusaha mencari payudaranya. Dengan tanpa kesulitan, tanganku sudah memegang payudaranya, tetapi masih terhalang dasternya.
“Eit… nanti dulu… ternyata dia ngga pake BH! Berarti semalam dia ngga pake BH-nya lagi dong, wah asik nih…” pikirku.
Lalu kumasukkan tanganku melalui lubang di antara kancing dasternya. Tidak susah juga, tanganku sudah memegang daging empuk dengan tonjolan di puncaknya.

Ana menggeliat, agak keras menggeliatnya, dia terbangun.
“Mampus gua,” pikirku.
Dia melotot sambil teriak, “Lepasin dong Mas… apa-apaan nih Mas?”
Aku gelagapan berusaha mencari alasan, “An… kamu ngga inget semalem ya?”
“Lupain aja Mas! Ana ngga mau lagi, ngga boleh, entar dosa Mas!”
“Tapi Ana semalem udah ngelakuin dosa lho… kenapa ngga sekalian aja?” rayuku.
Kali ini dia benar-benar marah. Ana teriak-teriak menyuruhku keluar dari kamarnya. Aku turut saja, untung letak rumahnya berjauhan dengan tetangga, jadi aku tidak takut teriakannya terdengar tetangganya.

Wah… gagal nih ceritanya.., aku akhirnya hanya meraba-taba batang kemaluanku yang menganggur karena tidak jadi dipakai. Aku duduk di ruang TV lagi. Melihat acara tarian Bangkok, lumayan lah buat obat, melihat penyanyi Thailand yang cantik-cantik. Sebentar kemudian Ana keluar dari kamarnya, dia menuju ke arahku. Aku berusaha tidak peduli, dia lalu duduk di dekatku.
Katanya, “Mas maapin Ana ya? Ana udah bentak-bentak Mas…”
“Ngga papa An.., Mas yang salah.” balasku.
“Sebenarnya Ana sayang sama Mas, tapi kita kan masih bersaudara, apalagi nanti kalo ketahuan ama Papa-Mama kan bisa berabe Mas!” jelasnya.
“Ya sudah.. lupain aja An, toh kamu masih muda. Nanti juga pasti ada cowok lain yang lebih pantas buat kamu.” lanjutku.
“Iya Mas, Mas… Ana mau ngasih sesuatu buat Mas.”
“Apa An?” tanyaku.
“Liat sini deh Mas..” (dia mulai tidak kaku lagi)

Aku menoleh ke arahnya, tiba-tiba dia mendekatkan bibirnya ke arah bibirku.
“Mmpphh…”
“Plas!” jantungku spontan berdegup keras, “Kok tau-tau nyium sih?” pikirku, tetapi kunikmati saja, enak sih.
Pertamanya dia hanya mau mengecup saja, tetapi kulingkarkan tanganku di lehernya, dan kudekap dia. Dengan lembut kukecup bibirnya, dia tidak berontak ternyata, aku pererat dekapanku, dada kami sudah saling menempel. Aku merasakan kalau dia masih belum memakai BH-nya. Dengan perlahan kubelai punggungnya, dasternya yang terbuat dari sutera terasa halus sekali, sensasinya justru membuatku jadi semakin ON saja. Coba saja pasangan anda disuruh pakai lingerie yang bahannya sutera, ditanggung kalau diraba pasti enak sekali. Lama kami berciuman dengan posisi itu, akhirnya capai juga aku. Kulepas pelukanku dan mengakhiri ciuman.

Aku berkata pada Ana, “Sini An… Mas pangku..”
“Ngga ah Mas… nanti kayak tadi malem deh jadinya…!”
“Percaya deh sama Mas… ngga sampe ngelakuin yang ngga-ngga kok, okey?”
Dia akhirnya mengalah, mungkin dia masih ada rasa ingin juga, dia juga tahu kalau sekarang kami hanya berdua saja di rumah, So? Why not?. Dia duduk di pangkuanku menghadap TV, tanganku bergerak dengan bebas di dadanya.
Kuraba dadanya sambil berkata, “An.. Ana ngga marah-marah lagi nih?”
“Biarin lah Mas.. udah terlanjur nih, tapi janji ya jangan kebablasen…” pintanya.
“Okey An!”
Dari belakang, sambil tanganku membelai payudaranya, kulihat dia memejamkan matanya menikmati belaian tanganku. Tanganku meraba payudaranya dengan hati-hati, penuh perasaan aku membelainya, aku sendiri memejamkan mataku jadinya. Pelan tapi pasti, tanganku bergerak turun menuju perutnya. Agak dekat dengan V-nya kugunakan kuku jariku yang agak panjang untuk membangkitkan rangsangan di perutnya. Kulirik dia, terlihat dia menahan perutnya dengan membuat kaku daerah itu.

Dia menikmati perbuatanku, perlahan dasternya kutarik ke atas, dia diam saja, ujung dasternya sudah sampai ke pahanya. Sedikit lagi pasti aku bisa meraih celana dalamnya. Akhirnya sampai juga, CD-nya sudah tidak tertutup lagi, sekilas kulihat bercak basah di ujung V-nya. Tanpa berpikir lama, kupindahkan tanganku ke sana, tanganku merasakan memang di daerah itu sudah basah. Kusimpulkan pasti dia sudah terangsang berat. Lalu kuselipkan tanganku ke dalam CD-nya, tetapi dia kali ini menahan tanganku supaya tidak masuk ke sana. Aku urungkan niatku untuk itu, tanganku hanya menggosok-gosok dari luar saja. Kemudian terlihat dia mengeluarkan lenguhan dan badannya menegang, seperti menahan sesuatu. Orgasme rupanya. Lalu badannya melemas lunglai di pelukanku.

Tanganku yang masih berada di selangkangannya merasakan kalau CD-nya bertambah basah. Kemudian Ana memandangiku. Lama kami berpandangan.
Ana kemudian bicara, “Mas, kita lakukan yuk. Ana udah ngga tahan…”
Wah, benar-benar kejutan..! Ana tiba-tiba berubah pikiran. Hal ini tidak akan kusia-siakan. Tanpa bicara lagi, langsung kucium dan kuremas dadanya yang masih tertutup daster. Ana melenguh keenakan karena remasan itu. Kemudian aku melepas remasannya. Kupandangi dadanya di balik dasternya, kupandangi seluruh tubuhnya, kulitnya yang sawo matang. Kemudian aku melepas dasternya karena akan merepotkan saja.

Kini ia polos tanpa satu benang pun menutupi tubuhnya. Kemudian aku membopongnya ke kamar tidurku dan kubaringkan ia di tempat tidur, lalu kuciumi seluruh tubuhnya. Tubuh Ana bergetar hebat, menandakan bahwa dia baru pertama kali ini melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya. Kemudian aku mencium dan menjilat bagian perutnya dan mulai ke bawah dan mulai meraba serta membuka kedua pahanya degan kedua tanganku. Tangan kananku membuka belahan vaginanya sedangkan seluruh bagian mulutku mulai mengolah bibir-bibir vaginanya. Tangan kiriku masih meremas buah dadanya yang sebelah kanan. Aku merasakan adanya cairan yang mulai membasahi permukaan bibir vaginanya. Aku terus menyedot dan menggigit-gigit perlahan labia mayoranya dengan asyik, sedangkan tangan kiriku sekarang meraba-raba klitorisnya dengan cairan pelumas dari lubangnya.

Asyik sekali, karena terlalu keasyikannya, secara tidak sadar, ada dua tangan menjambak rambutku, aku tidak menghentikan aktivitasku. Mulanya kupikir hanya gerakan kenikmatan yang diterimanya secara erotis. Eh, kok tambah lama terasa ada goyangan perlahan di bagian selangkangannya. Begitu pula tanpa kusadari, ada suara-suara nafas tertahan dan jambakan di rambutku bukan lagi jambakan pasif, tetapi mulai membelai dan memegang kupingku. Aku tiba-tiba sadar. Dia benar-benar menikmatinya. Aku termanggu duduk di antara selangkangannya dan melihat ke arah wajahnya.
“Kok.., berhenti Mas..?” suaranya berat perlahan dengan tatapan wajah yang sayu.
“Ehh.. terusin Mas… hhh… kurang dikit lagi..!” suaranya tertahan.

Aku masih terduduk bingung dan memandangnya dengan pandangan bodoh. Dan yang menjengkelkan, batang kejantananku tidak berkompromi. Dia tegak mengacung, sehingga mencuat di antara kaosku. Kepalanya tampak licin karena cairan bening yang keluar. Sebenarnya batang kejantananku lumayan besar dan panjang, sehingga tampak mencuat tinggi. Tiba-tiba Ana bangun, dan duduk di hadapanku, memandangku dengan sayu. Tiba-tiba tangannya mulai bergerak ke arah batangku, dan memegang lama sambil tersengal-sengal sehabis melumatnya. Kemudian memandangku perlahan dan meletakkan dirinya telentang di ranjang. Ana berdiri di atas tempat tidur dan berjongkok di depanku. Kemudian dia membuka kedua pahanya dan mengangkat lututnya ke atas sehingga lubangnya terlihat.

Ia meraba permukaan vaginanya sambil perlahan memandangku dan berkata, “Ayo Mas… masukin..!”
Aku seperti tersihir, antara bingung dan nafsu, menggerakkan diri untuk berlutut di antara kedua pahanya dan memegang kepala batangku yang licin terkena ludahnya dan mengarahkannya ke lubang merah mengkilat itu. Sejenak aku lupa bahwa dia masih belasan tahun, yang kurasakan secara reflek setelah dikenyot habis-habisan olehnya, ialah bahwa ia sudah tidak perawan lagi.
Dan, “Ssleeeppp..” ketat tetapi tidak begitu menjepit dan tanpa hambatan sama sekali (benar dugaanku). Aku menusukkan seluruh panjang batangku ke dalam lubang itu, dan hebatnya seluruh panjangnya batang kejantananku itu masuk total ke dalamnya serta membiarkannya sejenak merasakan denyutan hangatnya. Ana melenguh agak keras. Aku khawatir juga karena dia akan merasakan sakit di bagian dalam vaginanya. Tetapi karena malaikat nafsu lebih berkuasa, ya sudah aku santai saja dan mulai menarik batangku itu dari dalam lubangnya dan memasukkannya lagi seluruhnya.

Entah karena apa, aku tidak begitu merasakan rasa nikmat yang cepat naik. Memang terasa basah, licin dan enak tetapi, ya lebih karena ini memang sedang bersetubuh. Aku mulai berpraktek dengan berbagai macam cara menusuk dan arah tusukan ke dalam lubang vaginanya. Yang mulai mencemaskanku, Ana sama sekali tidak berusaha menahan suaranya. Ia mulai melenguh dan mengerang keras-keras ketika aku mulai mempercepat gerakanku. Aku antara cemas dan mulai nikmat, tidak peduli lagi. Lagi pula suaranya mulai merangsangku dan ini membuatku menusuk-nusuk dengan gerakan yang cepat dan keras.
“Aaahhh… aayooo Mass… aaduhh… cepat Masss..!” pintanya dengan nafsu.
Dia mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya. Bunyi beradunya kemaluan kami mulai terdengar keras, berkecepak-kecepak dan aku mulai merasakan lereng gunung telah kucapai. Tinggal mendaki cepat dan sampai di puncak.

Tiba-tiba Ana menghentikan gerakanku, dan menutup kedua pahanya sehingga terasa ada jepitan yang luar biasa di sekujur batangku. Kemudian dia memandangku sayu. Aku tahu apa yang dimaksudkannya dan mulai menggenjot lagi. Aku menjepitkan kedua betisnya di antara leherku dan bertumpu pada kedua tangan, sedang aku membentuk busur dengan tubuhku, merapatkan kedua pahaku sehingga terasa batangku membesar dan mulai menusuk-nusuknya cepat.
“Aaahhh… sss…” terdengar bunyi-bunyian antara suaranya yang merangsang dan bunyi kecepakan kemaluan kami yang beradu, sedangkan aku sendiri mengeluarkan suara helaan nafas yang cepat.
Beberapa menit kemudian, aku merasakan aliran yang semakin cepat memenuhi pinggul dan seluruh tubuhku. Keringatku telah mengucur deras.

Dan, “Annn… Annaaa… aaadduuhhh… ssss… Ann..!” spermaku menyemprot deras ke arah perutnya. Aku mengerang keras dan terus mengocok batang kemaluanku. Kemudian tanganku yang mulai begerak ke arah vaginanya segera menusuk-nusukannya. Lama aku terus menusuk-nusuk lubangnya karena rasa nikmatnya terus mengalir hingga tidak berapa lama kemudian Anna berkata, “Masss… aaa… Maass… ssshhh… aaddduuhh..!”
Ana menaikkan pelvisnya dan menerima tusukan-tusukan terakhirku dengan denyutan dinding vagina yang terasa cepat dan kenyal. Aku menindih tubuhnya yang kecil dan merasakan detak jantung yang cepat di dadanya dan dengusan nafas hangat di ubun-ubunku. Jariku masih menancap dalam di dalam vaginanya dan merasakan denyutan yang tidak kunjung reda.

Kemudian aku tergeletak di sampingnya, aku berkata kepada Ana, “An… kamu sekarang mandi saja ya..? Kayaknya kamu bau deh…”
“Sialan… iya deh, Ana mandi, makasih ya Mas… Ana udah dikasih pelajaran sama Mas.”
“Sama-sama An..”
Aku tidak merasa menyesal karena tidak dapat seperti yang kubayangkan (gadis yang benar-benar perawan). Yah, lumayanlah bisa meraba-raba kan? Ana lalu berdiri hendak menuju ke kamar mandi, sebelum dia pergi dia menoleh ke arahku lalu menunduk dan menciumku sebentar. Aku belaikan tanganku ke dadanya dan V-nya. Dia tersenyum memandangku, lalu bergegas menuju kamar mandi. Saat dia menutup kamar mandi, aku sempat dengar langkah kaki berlari menjauh dari arah pintu ruang tamu. Aku cepat-cepat menuju ruang tamu ingin mengetahui siapa yang baru saja dari sana. Sempat kulihat warna bajunya, biru seperti yang dipakai Reni. “Mungkinkah..?” batinku.

Aku kembali ke ruang TV, sambil menebak-nebak, “Apa iya.. tadi itu si Reni, terus kalau benar, berarti dia tahu dong kita lagi ngapain..? Waduh, terlalu serius sih tadi… jadinya begini deh.”
Kurang lebih 20 menit, Tante dan Reni datang dari pasar, Tante katanya mau masak Sop buntut dan membuat Rujak cingur. Siang jam 12:30, Ana mengajakku untuk makan. Saat makan, Reni kelihatan agak canggung melihatku, pikiranku lalu menghubungkan dengan peristiwa yang tadi kualami.
“Berarti tadi memang benar Reni..” pikirku.
Kami tidak bicara banyak saat di meja makan. Akhirnya sore pun tiba, Omku sudah datang sejak jam 3:00 tadi. Aku lewatkan seharian dengan bermain playstation dengan Ana, sedangkan Reni dari tadi berada di dalam kamarnya. Tidak tahu sedang berbuat apa dia, betah-betahnya di dalam kamar terus. Tante sendiri ke rumah tetangga untuk membantu masak, kebetulan tetangga ada yang sedang punya hajat.

Jam 8:00 malam, aku membaca-baca majalah di ruang tamu. Ana dan Reni di ruang TV sedang nonton HBO, tidak tahu apa film-nya. Tante sudah tidur di kamar belakang, lelah sehabis membantu tetangga. Si Om malam ini mendapat tugas jaga malam. Jam 9:00, Ana ke ruang tamu, dia bicara padaku kalau mau tidur duluan, Reni masih mau nonton TV menunggu opera sabun kegemarannya di HBO kata Ana. Ana suruh aku menemani Reni di ruang TV, soalnya si Reni anaknya sedikit penakut katanya. Jadi aku pindah ke ruang TV, kubawa majalah yang sedang kubaca. Aku rebahkan badanku di sofa panjang di depan TV. Reni sendiri duduk di kursi favoritnya, tanpa sekali pun menengok ke arahku. Aku teruskan baca artikel yang sempat terputus tadi, sambil sekali-sekali aku melihat ke arah televisi. Aku lihat ke arah jam tanganku, ternyata sudah jam 11:13.

Aku berkata kepada Reni, “Ren.. kamu ngga ngantuk?”
Dia tidak menjawab, kuulangi lagi dua kali baru dia menjawab, “Belum ngantuk kok Mas, lagian film-nya barusan mulai nih.”
“Oke.. kalau gitu Mas pergi tidur dulu ya..?”
“Ntar dulu dong Mas, tunggu film-nya abis… kan Reni takut nonton sendirian, film-nya agak horor nih!” pintanya.
“Sofanya dibuka aja… jadiin tempat tidur, Mas tidur di situ aja.” katanya lagi.
“Emang bisa Ren..? Oke deh Mas coba.”
Aku coba deh usul Reni, dan aku akhirnya tidur di sofa yang sudah diubah menjadi tempat tidur itu. Tidak tahu berapa lama aku tertidur di situ, tiba-tiba aku terbangun merasakan tanganku ada yang memegang. Aku buka mataku sedikit-sedikit, terlihat olehku Reni memegang tanganku, digosok-gosokkannya tanganku ke selangkangannya. Terasa olehku bulu-bulu halus di ujung jariku. Kulirik mukanya, dia mendesah amat pelan. Wajahnya menghadap ke arah televisi, aku jadi curiga, jangan-jangan?

Aku lalu mencoba melihat ke layar televisi, ternyata di sana terlihat film-nya sudah bukan HBO lagi. Kesimpulanku, si Reni ternyata suka nonton sampai malam berarti hanya untuk menyetel VCD porno. Wow! berarti kakaknya kalah dong sama adiknya. Perlu diketahui, jarak umur antara Ana dengan Reni hanya 1 tahun lebih sedikit, apalagi Reni anaknya agak bongsor, tingginya sepundakku, tidak begitu gemuk tetapi cukup berisi. Singkat kata, aku beruntung kali ini, karena mendapat daun muda nih. Perlahan, tanganku yang masih bebas berusaha melorotkan celana dalamku ke bawah. Sementara Reni masih asyik dengan kegiatannya yang semakin lama semakin menjadi, dia seperti terobsesi dengan film dari VCD tersebut. Lenguhannya kadang-kadang terdengar keras.

Lalu perlahan-lahan tanganku yang dia pegang kutarik ke arah kemaluanku. Setelah dekat, tanganku yang satunya dengan cepat kurangkulkan ke pinggangnya dan menariknya ke atas tubuhku. Dia kaget sekali, hampir dia berontak, tetapi selanjutnya dia justru memegang batang kejantananku dan mulai mengocok-ngocok dengan lembut. Aku pun lalu mengimbanginya, kuubah posisiku agar lebih enak dengan bersandar ke belakang, ke sandaran sofa. Dia menoleh ke arahku, terlihat wajahnya yang khas ABG, mengingatkanku kepada cewek-cewek yang suka nongkrong di mall-mall. Posisi tubuh kami akhirnya saling berhadapan, dia menggesekkan tubuhnya naik turun. Payudaranya ditempelkan ke dadaku. Nafasnya terdengar keras, khas orang yang sedang terangsang berat, “Sshhhsshhsshhss…” seperti itu deh kalau tidak salah.

T-shirtnya yang gombrong mulai basah terkena keringatnya, memang malam itu udara terasa sangat panas, aku sendiri juga merasa kepanasan. Aku peluk dia, tanganku kutelusupkan ke dalam t-shirtnya dari belakang, sedangkan bibirku tidak tinggal diam begitu saja, kucium belakang kupingnya dengan pelan, kuhembuskan nafas secara perlahan ke daun telinganya. Terasa olehku Reni semakin menggila, terasa dari gerakan tubuhnya yang turun naik dengan cepat, digesekkannya dadanya ke dadaku, juga selangkangannya dia gesek-gesekkan ke kemaluanku dengan bernafsu. Tanganku yang berada di punggungnya, akhirnya kugeser ke pantatnya, dari atas punggung kugerakkan ke bawah, masuk ke celananya sebelum sampai ke pantat. Kuputar ke samping dengan agak cepat, lalu kuteruskan ke pinggang mencari celana dalamnya, kuraba dari luar celana dalamnya, pantatnya yang empuk kuremas dengan gemas. Aku menyesuaikan dengan irama gerakannya yang maju mundur. Kontan dia makin menggila, tangannya naik ke atas, rambutnya menyuguhkan gerakan yang erotis sekali. Dia berusaha menanggalkan t-shirtnya.

Setelah t-shirtnya lepas, dia pegang kepalaku, menariknya ke arahnya dan melumat bibirku dengan sangat bernafsu. Reni tidak memakai BH, payudaranya yang berukuran lumayan besar terlihat mengkilat karena basah oleh keringat. Aku menjilat-jilat payudaranya, kukulum putingnya yang kecil dan tidak begitu menonjol.
Dia berteriak pelan, “Mas..!”
Aku lalu berpindah ke bibirnya yang mungil, kulumat dengan bernafsu bibirnya itu. Dia mendesah keenakan, akhirnya dia tidak tahan lagi.
“Ayo Mas, kayak yang di VCD itu lho Mas…” pintanya.
Kujawab, “Yang gimana Ren..?”
“Cepetan dong Mas… Reni udah ngga tahan nih..”
“Emang Reni udah pernah..?”
“Belum Mas… makanya Reni pengen coba, cepetan dong Mas…”

Kami lalu berdiri berhadapan, aku melepas pakaian yang melekat di tubuhku, dia begitu juga melepas semua pakaian di tubuhnya. Dengan bernafsu dia pegang batang kemaluanku untuk dikocok-kocok, sensasinya, wuah! Tidak tergambarkan. Dipegang oleh anak baru umur 18 tahun! Lalu sebentar kemudian, dia melepas batang kemaluanku dan membalikkan tubuhnya, berpegangan pada lemari buku. Posisinya sekarang agak menungging membelakangiku, pantatnya yang belum begitu besar terlihat kenyal. Dari belakang, aku melihat kemaluannya sudah merekah, ada daging yang keluar dari kemaluannya, entah apa itu namanya. Mungkin itu kli yang dinamakan clitoris. Tetapi pemandangan itu menjadikan batang kejantananku menjadi berdenyut-denyut ingin merasakannya.

Kudekati dia, kugesek-gesekkan kepala senjataku ke daging yang menyembul keluar itu. Tangan Reni dengan tergesa-gesa menarik batang kejantananku untuk segera dimasukkan ke dalam liang kemaluannya. Terasa agak sulit untuk memasukinya, kutusukkan dengan keras karena aku sudah sangat bernafsu. Aku melihat ke arah wajahnya. Pandangannya ternyata ke arah layar televisi, sambil sesekali bibirnya mengeluarkan desahan-desahan merangsang.
“Gila!” pikirku, “Dia ternyata maniak sama VCD porno.”
Aku tingkatkan kecepatanku dalam menggoyang. Lama-lama aku merasa pinggangku capek, dan aku coba mengarahkan dia untuk mengganti posisi classic, aku tiduran dan dia yang di atasku. Dia menurut. Sambil memegang pantatnya, aku tiduran dan menikmati goyangannya. Badannya terlihat mungil bila dibandingkan dengan tubuhku, suara desahannya terdengar melengking lirih di telingaku.

Pada puncak kenikmatannya, dia melengkungkan tubuhnya ke belakang, tangannya menahan berat badan tubuhnya dengan gemetar. Rasa hangat yang terasa oleh batang kejantananku menjadi bertambah seiring dengan tercapainya puncak kenikmatannya. Sedangkan aku sendiri belum merasakan puncak. Reni merangkulku dengan lemas. Setelah itu, dia berbisik ke kupingku.
“Makasih ya Mas, Mas telah memberi Reni melebihi dari mbak Ana…”
“Jreng! Terkuaklah kebenaran peristiwa siang tadi, ternyata memang benar. Reni telah melihatku bermesraan dengan kakaknya.” daliam hatiku.
“Loh, jadi tadi Reni ngelihat Mas padi gituan sama mbak Ana to?”
“Heeh Mas… Reni kepingin, lagian Reni sering ngeliat di VCD. Kayaknya enak banget deh Mas… dan ternyata memang bener.”
“Oke deh, tapi Mas Padi belom sampai puncak nih.. gimana dong? Kan kasihan Reni udah capek.”

“Begini aja Mas… dari tadi siang emang Reni udah merencanakan ini, gini rencana Reni, tadi waktu Reni ngeliat Mas sama Mbak Ana gituan, sebenarnya Reni mo ngambil Dompet Mama yang ketinggalan. Trus Reni punya rencana, Reni beli CTM (obat tidur) buat dikasih ke minuman Mama ama Mbak Ana, nah.. tadi Mbak Ana sama Mama udah minum obatnya (dicampur sama teh) masing-masing 3 butir.. hehehe.”
“Terus gimana dong?” sahutku.
“Sekarang Mbak Ana kan pasti pules banget tidurnya, diapa-apain pasti ngga bangun deh. Kan tempat tidur sebelahnya lagi kosong…”
“Heh!” aku spontan tahu apa yang dimaksudkannya, “Sip deh! Oke Ren! Sekarang kita pindah aja ke kamarmu…”
“Ayo..!”

Kemudian kami berdua berdiri dan menuju ke arah kamar Ana. Memang benar Ana tertidur lelap. Hanya iseng saja, aku membuka dasternya dan menyentuh kewanitaannya Ana dan memasukkan jari telunjuk dan tengah. Ternyata memang tidak bangun! Hanya saja dia mengeluarkan sedikit lenguhan-lenguhan nikmat yang dia rasakan. Kemudian aku mulai memainkan vaginanya sampai basah. Tetap saja Ana tidak bangun sama sekali.
“Mas, udah dong. Kok malah Mbak Ana yang dimaenin. Giliran Reni dooong…” keluh Reni karena sudah terbalut nafsu yang tinggi.
Padahal tadi sudah puas. Lagipula aku juga sudah bernafsu karena tadi dalam permainan pertama belum selesai.

Kemudian aku melepaskan jilatan pada vagina Ana dan berpaling ke Reni ysng sudah mulai memuncak nafsunya. Kemudian aku mulai naik ke atas ranjang dan menidurkan Reni. Secara intense, kami pun mulai pagutan. Tetapi ketika kami berciuman, beda sekali dengan yang pertama. Seperti disirap, kucium pipinya, mulutnya, berhenti lama di situ. Mulut kami berpagut seperti memecah ribuan rindu. Lidah kami bermain di sana. Tidak lama kemudian, kuturunkan lidahku ke arah lehernya, dia menggelinjang, matanya terpejam, tangannya bergidik seperti menahan gelombang perasaannya sendiri. Ketika putingnya kuraba, dia mulai melenguh. Dengan gerakan halus, aku mulai meremas-remas sehingga Reni merasa keenakan. Sementara bibirku sudah beralih, tidak lagi di bibirnya tetapi sudah menjilati telinga, dan lehernya.

Karena buah dadanya sudah terbuka, mulutku pun bergeser ke puting susunya yang sudah menegang. Ketika kumainkan dengan lidahku, lenguhannya semakin panjang. Tangan kananku pindah ke arah vaginanya dan mulai meremasnya. Sambil memainkan klitorisnya, aku terus menjilati kedua payudaranya. Ketika aku merasakan kemaluannya sudah sangat basah, aku mulai bernafsu untuk melakukan foreplay yang lebih lama. Tidak lama kemudian, mulutku menjilat ke arah perut, pinggang dan sasaran terakhir adalah klitorisnya yang merah. Karena tidak tahan, Reni berontak dan ingin merubah posisi.
“Ren, duduk di depan mukaku…” pintaku sambil menolongnya berpindah posisi.
Dia pun kemudian duduk dan menempatkan liang kenikmatannya tepat di wajahku. Lidah dan mulutku kembali memberikan kenikmatan baginya. Responnya mengejutnya.
“Aughhh…” setengah berteriak dan kedua tangannya meremas buah dadanya. Kuhisap dan kujilati terus, semakin basah liang kenikmatannya.

Tiba-tiba Reni berteriak, keras sekali, “Aahhh… ahhh,” matanya terpejam dan pinggulnya bergerak-gerak di wajahku.
“Aku.. keluar,” sambil terus menggoyangkan pinggulnya dan tubuhnya seperti tersentak-sentak.
Mungkin inilah orgasme wanita yang paling jelas kulihat. Dan tiba-tiba, keluar cairan membanjir dari liang kenikmatannya. Ini bisa kurasakan dengan jelas, karena mulutku masih menciumi dan menjilatinya.

“Aduh… Mass.. enak banget. Lemes deh.” katanya. Dia terkulai menindihku.
“Enak?”, tanyaku.
“Enak banget, kamu pinter yah. Ngga pernah lho aku klimaks kayak tadi.”
“Akh, yang bener..? Kamu kan tadi udah ngerasain.” kataku mengingatkan pada permainan pertama kami.”
“Tapi, uuhh… lebih enak yang ini..”
Ternyata Reni masih menikmati sisa-sisa klimaksnya. Tetapi karena belum puas, langsung saja kujilat kembali liang kemaluannya. Semakin lama semakin asyik dan sangat enak, dan dia pun merintih-rintih kecil.
“Mass… nakal ahhh… kok… akkhh… dimaenin lagi… ouuchh… siiich… uwuuhh ooo… sstt akhs… akhs… akhs… ooohhh aahh… sstth,” sambil tubuhnya agak bergerak tidak karuan, mungkin jilatanku tidak seberapa tetapi kulihat dia sedang keasyikan menikmati jilatanku.

Lalu dia berdiri dan menarik tubuhku ke lantai. Di situ kami berciuman lagi, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang hangat di sekitar liang kemaluannya, kuingin batang kemaluanku dimasukkannya ke lubang kemaluannya. Soalnya aku masih ragu. Walaupun tadi sih berani. Tetapi takut si Ana bangun. Kemudian aku memberanikan untuk bicara.
“Ren, aku masukin lagi yaaa… Tadi kan belum puass…”
Reni tidak menjawab. Dia hanya merintih keenakan. Karena malas bermain sambil berdiri, aku mendorong Reni hingga tertindih oleh badanku. Reni mengerang keras karena vagina tertindih oleh adikku yang sudah menegang tinggi. Kemudian mulai lagi kugerakkan tanganku mencakar halus pinggangnya sampai ke payudaranya. Reni meremas kedua tanganku, menahan geli yang ditimbulkannya.

“Ssshh… ssshhh!” Reni mendesis berkali-kali menahan kenikmatan itu.
Kembali aku memainkan klitorisnya dengan tanganku, sementara kujilati kedua pahanya.
“Aaahhh… ssshhh,” Reni mengerang lirih.
Aku menikmati aroma kewanitaannya yang semerbak bersamaan keluarnya cairan dari liang kemaluannya. Kubenamkan wajahku ke liang kemaluannya sambil menjilati bibir kemaluannya. Klitorisnya yang berwarna merah jambu kukulum sambil kumainkan dengan lidahku. Tubuh Reni menggelinjang bergetar.
“Uuuhffsss… aaahhh!” Reni menjerit menahan kenikmatan sambil tangannya menggenggam tepi ranjang.
Kurasakan cairan kemaluannya deras mengalir dan kuhisap dengan penuh kepuasan.

“Masss… masukin sekarang.. aku ngga tahan nih..” Reni lirih memohonku untuk segera memasuki tubuhnya.
Aku segera menempatkan tubuhku di atas tubuhnya yang ramping, seksi serta kencang itu. Berdesir darahku melihat Reni terbaring polos telanjang. Ini bukan kesekian kalinya aku mengaguminya. Badan Reni kurus tetapi kencang dan atletis seperti pelari sprinter tetapi untungnya tidak sampai berotot.
“Maass… cepat doong… aakkhh.. ngga tahan nih…”
“Ok, tenang aja..”

Sejenak sempat kudengar Reni mendesis saat meraih kemaluanku.
“Uuu… besar dan kuat..” ujarnya setengah berbisik seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Begitu ujung kepala batang kejantananku menempel di bibir kewanitaannya, kurasakan getaran listrik yang mulai menjalar di seluruh tubuhku. Lalu perlahan kudorongkan ke dalam liang kemaluannya.
“Uuhhss… yess, Masss… uuuffssh,” Reni mengerang sambil mendongakkan kepalanya.
Dengan satu dorongan berikutnya, batang kemaluanku sudah masuk secara penuh ke dalam liang kenikmatan Reni yang hangat dan tebal. Reni mengalungkan kedua tangannya di leherku dan kedua kakinya melingkar di pinggangku.

Aku mulai gerakan memompa liang kemaluannya.
“Yess… ufff Maas…” Reni menjerit halus sambil memejamkan matanya.
Gerakanku semakin lama semakin cepat dengan tekanan yang semakin kuat menerobos kedalaman liang kemaluan Reni yang merespon dengan berdenyut-denyut seperti memijit batang kemaluanku.
Tiba-tiba Reni membuka matanya dan berbisik lirih, “Mas ganti posisi… aku mau nih keluar nih..”
Kami segera ganti posisi, badan Reni membalik dalam posisi menungging (doggy style). Katanya dia biasa orgasme dalam posisi ini.

Aku menuruti permintaan Reni yang jelas dalam posisi ini aku jadi bisa melihat postur Reni lebih lengkap. Biarpun Reni ramping, tetapi dia memiliki pantat yang padat dan berisi sehingga dengan pinggangnya yang ramping makin membuat pantatnya montok. Aku segera mengarahkan batang kemaluanku kembali, kali ini penetrasi dari belakang.
“Srrrt…” makin lancar penetrasiku kali ini soalnya bagian luar liang kemaluan Reni makin basah.
Reni menggenggam pegangan ranjang degan kedua tangannya. Aku menciumi lehernya dari belakang sambil kadang-kadang menggigit pundaknya. Ternyata Reni sangat aktif dalam posisi ini. Dia semakin aktif bergerak, selain mengikuti gerakan maju mundurku, pinggulnya pun bergoyang mengocok batang kemaluanku.

“Reni… pinggul kamu hebat banget,” aku berbisik terengah-engah.
Reni menjawabnya dengan erangan-erangan, dia menoleh kepadaku sambil menggigit bibir bawahnya. Terlihat peluh membasahi wajahnya yang makin memerah.
Sesaat kemudian dia berbisik kepadaku, “Ouuchhh.. sayang… lebih cepat!” suaranya diikuti deru nafas yang memburu. Rupanya dia sudah semakin mendekati klimaks.
Aku pun meresponnya dengan gerakan yang lebih cepat dan keras. Kutusukkan batang kemaluanku makin dalam ke liang kemaluannya seiring perasaan klimaks yang sudah di ambang.
“Aaahhh Uuuh Sssh… teruuus Mas… ahhh…” Reni menjerit sambil bergerak makin liar sampai ranjangnya berderik-derik.

Kuteruskan gerakanku dengan mengerahkan sekuat tenaga mengimbangi gerakan liar Reni.
Ana masih tidur ketika Reni tiba-tiba menjerit, “Aaah… uuhhhfffssshhh… Masss…” kepalanya mendongak, tubuhnya bergetar hebat dan kurasakan semburan hangat dari liang kewanitaannya merembes sampai ke buah kemaluanku.
Aku pun melepaskan jutaan spermaku menyemprot kencang memenuhi karet kondom yang kupakai.
“Uuu… yess…” Reni mengakhiri gelombang kenikmatan dan mengerang sambil menikmati sisa-sisa orgasmenya.
“Ouuhhh.. Masss, kamu hebat sekali… aahh…”
Mungkin bisa dibilang ini adalah permainan terbaikku dibandingkan dengan Ana. Kemudian kami pun sempat tertidur berpelukan di kamar Ana.

Jam 5 pagi Reni balik ke kamarnya dan aku pun tidur di kamarku sendiri. Pukul 10:00, aku bangun dan mempersiapkan diri untuk kembali pulang ke kotaku. Aku diantar Om ke terminal bus, aku tidak sempat pamit dengan Ana dan Reni karena mereka belum bangun. Reni kelelahan karena habis bertempur denganku sepanjang malam, sedang Ana masih terpengaruh CTM. Tante sendiri belum bangun juga. Si Reni memang gila seks. Hari itu hari Kamis, jadwalku adalah harus berobat ke dokter spesialisku. Tetapi sial, di jalan perutku terasa sakit, sepertinya diare. Aku terpaksa turun di jalan dan mencari restoran terdekat untuk buang hajat. Sampai di rumahku pukul 8 malam dan itu berarti aku tidak jadi ke dokter. Tetapi aku tetap tersenyum simpul, kalau mengingat baru saja aku mendapatkan dua perawan ting-ting.

Kumpulan Cerita Seks, Cerita Dewasa, Foto Bugil. Cerita Mesum, Pemerkosaan, Ngentot ABG, Pesta Seks, Malam Pertama. Daun Muda, Hilangnya Keparawan, Perselingkuhan, Sedarah, Setengah Baya, Memek SMP, Memek SMA, Ngentot Gratis, Vudeo Bokep, Video Pemerkosaan, Penganiayaan, Telanjang, Foto Bugil.

pecinta-facebook.blogspot.com adalah situs dewasa yang menyajikan cerita-cerita seks dewasa, dan foto seks yang dimana ini hanya untuk hiburan saja.